Dijelaskanya, batik menjadi salah satu peluang mendongkrak ekonomi masyarakat kecil sebab yang bergelut di sektor UMKM, sebab batik tidak memerlukan biaya dan teknologi. Akan tetapi di satu sisi geliat produksi batuk memiliki tantangan tersendiri yakni menurunnya minat generasi muda.
Selain membina generasi muda menekuni profesi sebagai pebatik, CSR TBIG juga membidani koperasi yang dalam pelaksanaannya memberikan asupan modal bagi peserta binaan ketika ingin mengembangkan usaha mereka. Koperasi bersama dinilai masih relevan karena manfaat yang penting adalah manfaat ekonomi.
“Melalui koperasi kami mengembangkan skema melindungi masyarakat, kita menyalurkan permodalan mikro tanpa bunga, Kita membantu distribusi produk lewat kepastian membayar. Koperasi melakukan pembelian tunai, kita modalin kita beli cash, karena resiko yang dihadapi sangat tinggi dan bisa membuat mereka terjerumus ke dalam hutang dari rentenir” paparnya.
Inklusivitas sosial program CSR TBIG juga kata Fahmi Alatas, menyasar kaum difabel di mana selama ini pihaknya bekerjasama dengan lembaga Sekolah Luar biasa (SLB) di Pekalongan melatih anak-anak tuna rungu dan tuha grahita.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












