Kontribusi manufaktur terhadap PDB turun dari lebih dari 27 persen pada awal 2000-an menjadi sekitar 18–19 persen saat ini. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi siklus bisnis, melainkan gejala deindustrialisasi dini yang terjadi sebelum Indonesia mencapai tingkat pendapatan tinggi. Negara-negara yang berhasil keluar dari Middle Income Trap tidak menempuh jalur ini. Korea Selatan, Taiwan, dan kemudian China menjaga manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi sambil terus meningkatkan kompleksitas teknologi dan nilai tambahnya. Indonesia justru bergerak sebaliknya. Ekonomi tumbuh, tetapi semakin dangkal.
Pola pertumbuhan yang dangkal ini diperkuat oleh ketergantungan berlebihan pada komoditas. Lonjakan harga batubara, nikel, sawit, dan mineral lain memang kerap menyelamatkan Indonesia dalam jangka pendek. Namun ekonomi berbasis komoditas menciptakan ilusi kemakmuran tanpa membangun fondasi jangka panjang. Nilai tambahnya rendah, volatilitasnya tinggi, dan kontribusinya terhadap peningkatan keterampilan tenaga kerja sangat terbatas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
