Sejak saat itu, ia memilih menekuni dunia pertanian sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan. Menurutnya, keberhasilan dalam bertani tidak harus diawali dengan pendidikan formal di bidang pertanian, melainkan dengan kemauan belajar, kerja keras, dan konsistensi.
“Kita petani tidak harus sekolah atau kuliah pertanian. Yang penting ada niat dan kemauan untuk berusaha. Kalau kita tekun, pasti ada hasil yang memuaskan,” ujarnya.
Salah satu komoditas utama yang menjadi sumber penghasilan keluarganya adalah sirih. Saat ini, OB mengelola sekitar 700 pohon sirih yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Meski sempat mengalami kerugian akibat hampir 200 pohon sirih mati, ia tidak menyerah dan terus membenahi kebunnya hingga kembali produktif.
“Memang sebelumnya hampir 200 pohon sirih mati, tetapi saya kembali membenahi kebun. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik dan terus saya kembangkan,” katanya.
Usahanya pun membuahkan hasil yang menjanjikan. Dalam satu kali panen, ia mampu mengumpulkan sedikitnya 20 dos sirih ukuran kardus mi instan. Dengan harga jual yang saat ini mencapai sekitar Rp500 ribu per dos, pendapatan yang diperoleh dapat mencapai puluhan juta rupiah ketika harga pasar sedang baik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












