Integrasi Agromaritim: Keniscayaan Manajemen Modern dalam Mewujudkan Sistem Pangan Berkelanjutan

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260630 WA0006

 

Implementasi sistem terintegrasi secara empiris terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani secara drastis. Penelitian Thakur dkk. (2025) menunjukkan bahwa model IFS yang menggabungkan serealia, sayuran, peternakan, dan perikanan mampu mencapai produktivitas setara 23,55 ton padi per hektar per tahun serta menghasilkan keuntungan bersih yang signifikan . Lebih lanjut, studi oleh ICAR (2025) mendokumentasikan bahwa penerapan IFS berbasis peternakan-ikan-hortikultura tidak hanya menggandakan pendapatan petani, tetapi juga menciptakan siklus nutrisi tertutup melalui daur ulang limbah yang efisien . Fakta ini memperkuat argumen bahwa integrasi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya dan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha di sektor primer.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Sebaliknya, jika setiap sektor masih dikelola secara terpisah, maka konsekuensinya adalah terbentuknya birokrasi manajemen yang gemuk dan inkoheren. Setiap sektor akan memerlukan kelembagaan, pendanaan, dan regulasi yang berdiri sendiri, yang berpotensi menimbulkan tumpang tindih kebijakan dan kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya yang terbatas, seperti lahan dan air . Kondisi ini tidak hanya inefisien secara ekonomi, tetapi juga dapat memicu konflik kepentingan dan degradasi lingkungan, sebagaimana dijelaskan oleh FAO bahwa interaksi antagonistik antara pertanian dan perikanan sering muncul akibat persaingan sumber daya dan praktik budidaya yang tidak ramah lingkungan .