Untuk mewujudkan harapan tersebut, diperlukan terobosan dalam tata kelola yang bersifat lintas sektor. Pemerintah dan pemangku kepentingan harus mendorong kebijakan yang memfasilitasi integrasi, seperti penyediaan infrastruktur pendukung, akses permodalan, serta transfer teknologi dan pengetahuan bagi petani dan nelayan . Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani menjadi krusial mengingat sistem terintegrasi memerlukan tingkat keterampilan dan kompleksitas manajemen yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional . Tanpa dukungan yang komprehensif, potensi integrasi hanya akan tetap menjadi utopia belaka.
Sebagai penutup, aspirasi Marno Bunda, S. Pt., mencerminkan visi pembangunan pertanian masa depan yang tidak lagi sektoral, tetapi holistik dan terintegrasi. Dengan mengadopsi pendekatan IFS, sektor pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan dapat dikelola sebagai satu kesatuan sistem produksi yang saling menguntungkan. Hal ini akan menghasilkan efisiensi manajemen yang lebih baik, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong terciptanya sistem pangan yang berkelanjutan dan berdaya saing. Sudah saatnya paradigma pembangunan sektoral ditinggalkan dan diganti dengan pendekatan ekosistem yang terintegrasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












