Opini  

Kegagalan Meritokrasi: Saat Jabatan Publik Tidak Lagi Menghormati Kompetensi Profesional

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20251210 WA0046 1

Ketidakefisienan ini diperparah oleh budaya KKN yang masih bertahan, meski kini hadir dalam wujud yang lebih rapi. KKN modern bekerja melalui rekomendasi informal, saran interpersonal, dan legitimasi semu berbasis loyalitas. Mekanisme ini merusak sendi dasar meritokrasi karena menggeser proses seleksi dari kerangka objektif menjadi sekadar formalitas administratif. Seleksi jabatan akhirnya hanya menjadi “seremoni”, bukan proses penyaringan kompetensi.

Jika dianalisis secara mendalam, akar masalahnya adalah ketidakmampuan institusi untuk menghormati dua prinsip utama: kepatutan profesi dan kesesuaian bidang ilmu. Kepatutan bukan hanya tentang moralitas, tetapi mencakup integritas eksekutif, kemampuan membuat keputusan etis, serta kapasitas memimpin tanpa konflik kepentingan. Sedangkan kesesuaian bidang ilmu merupakan basis teknokratis yang wajib dimiliki pejabat publik agar keputusan yang diambil berbasis data, evidence, dan kerangka keilmuan yang valid.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Mengabaikan dua prinsip tersebut berarti membangun struktur pemerintahan di atas landasan yang rapuh. Tidak mengherankan ketika banyak kebijakan publik berakhir tidak efektif, anggaran bocor, target tidak tercapai, dan inovasi mandek. Sebuah dinas kesehatan yang dipimpin oleh pejabat berlatar non-kesehatan tidak dapat memahami protokol epidemiologi. Dinas pendidikan yang dikendalikan oleh individu tanpa pemahaman pedagogi tidak akan mampu memetakan mutu belajar. Bahkan BUMD yang dipimpin oleh individu tanpa kompetensi manajerial berisiko mengalami kerugian signifikan seperti beberapa kasus nyata yang ditemukan BPK di berbagai provinsi.