Melampaui Prosedural, Menuju Sistem Peternakan Kompleks di Timor NTT

Reporter : Marno Bunda Editor: Okber Bait
IMG 20260612 WA0038

Berdasarkan studi dasar yang dilakukan Kiha dan Sirappa (2025) dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, sistem produksi sapi potong di NTT didominasi oleh tiga model: peternakan penggemukan, peternakan kecil, dan peternakan besar. Dalam publikasi mereka di Jurnal Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Kiha dan Sirappa menegaskan bahwa kesemuanya memiliki karakteristik input dan output yang rendah. Perbedaan antara peternakan kecil dan besar hanyalah terletak pada skala usaha, bukan pada efisiensi atau produktivitas (Kiha & Sirappa, 2025, hal. 112).

Lebih mengkhawatirkan lagi, studi kolaborasi internasional yang dipimpin Dahlanuddin dari Universitas Mataram dan dipresentasikan dalam Tropentag 2024 mengungkapkan bahwa tingkat adopsi inovasi peternakan di wilayah timur Indonesia, termasuk NTT, masih sangat rendah. Dahlanuddin dkk. (2024) melaporkan bahwa meskipun berbagai inovasi teknologi terbukti mampu meningkatkan angka kebuntingan sapi Bali dari 60% menjadi 85%, menurunkan angka kematian anak sapi dari 15% menjadi 5%, serta menaikkan bobot sapih dari 70 kg menjadi 90 kg, adopsi secara luas tidak berkelanjutan (Dahlanuddin et al., 2024, sesi 2, par. 4). Pertanyaannya adalah : mengapa teknologi yang sudah teruji secara ilmiah ini gagal diadopsi secara masif oleh peternak kita di NTT?



Exit mobile version