Oleh: Ricky Ekaputra Foeh.,MM Akademisi dan Pengamat Manajemen
KUPANG, Flobamora-News.com – Di banyak kota, gedung gereja tampak mencolok dan menjadi penanda kawasan, tempat berkumpul, dan simbol iman. Setiap akhir pekan, suasana begitu hidup: kursi terisi penuh, musik mengalun, dan berbagai pelayanan berjalan bersamaan. Namun begitu hari-hari itu berlalu, kesibukan sirna. Ruang-ruang luas yang telah dibangun dengan biaya besar kembali sepi hampir sepanjang minggu.
Situasi ini memunculkan pertanyaan yang makin relevan: sampai kapan gereja bertumpu hampir sepenuhnya pada persembahan jemaat? Biaya operasional terus naik seperti listrik, internet, perawatan gedung, keamanan, staf, hingga program sosial. Jika hanya mengandalkan satu sumber dana bukan hanya tidak realistis, tetapi juga membuat gereja rentan. Bahkan sering muncul tekanan tak langsung kepada jemaat untuk terus menopang kebutuhan pelayanan.
Gereja membutuhkan sumber pendapatan mandiri karena pelayanan yang kuat tidak bisa dibangun hanya dengan niat baik. Segala bentuk pelayanan berupa ibadah, kegiatan sosial, pendidikan, hingga pastoral memerlukan fondasi keuangan yang stabil. Ketergantungan penuh pada persembahan menciptakan fluktuasi dan membatasi ruang gerak. Ketika keuangan goyah, pelayanan berubah menjadi reaksi, bukan langkah strategis yang terencana.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












