Opini  

Mengakhiri Keheningan Aset Gereja: Jalan Baru Menuju Kemandirian Pelayanan

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20251020 WA0014

Oleh: Ricky Ekaputra Foeh.,MM Akademisi dan Pengamat Manajemen

KUPANG, Flobamora-News.com – Di banyak kota, gedung gereja tampak mencolok dan menjadi penanda kawasan, tempat berkumpul, dan simbol iman. Setiap akhir pekan, suasana begitu hidup: kursi terisi penuh, musik mengalun, dan berbagai pelayanan berjalan bersamaan. Namun begitu hari-hari itu berlalu, kesibukan sirna. Ruang-ruang luas yang telah dibangun dengan biaya besar kembali sepi hampir sepanjang minggu.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang makin relevan: sampai kapan gereja bertumpu hampir sepenuhnya pada persembahan jemaat? Biaya operasional terus naik seperti listrik, internet, perawatan gedung, keamanan, staf, hingga program sosial. Jika hanya mengandalkan satu sumber dana bukan hanya tidak realistis, tetapi juga membuat gereja rentan. Bahkan sering muncul tekanan tak langsung kepada jemaat untuk terus menopang kebutuhan pelayanan.

Gereja membutuhkan sumber pendapatan mandiri karena pelayanan yang kuat tidak bisa dibangun hanya dengan niat baik. Segala bentuk pelayanan berupa ibadah, kegiatan sosial, pendidikan, hingga pastoral memerlukan fondasi keuangan yang stabil. Ketergantungan penuh pada persembahan menciptakan fluktuasi dan membatasi ruang gerak. Ketika keuangan goyah, pelayanan berubah menjadi reaksi, bukan langkah strategis yang terencana.