“Nabi Amos bukan siapa-siapa, bukan seorang pejabat atau orang kaya. Nabi amos hanya orang biasa, datang dari kelas bawah dari kampungnya yang bernama Tekoa. Sebelumnya ia bekerja sebagai penggembala domba dan pemetik buah ara. Latar belakangnya ini yang membuat nabi Amos mengetahui dan mengalami praktek ketidakadilan yang tumbuh subur pada masa pemerintahan raja Yerobeam II yang saat itu sementara ada pada puncak kejayaan. Memiliki kekuatan militer yang hebat, sektor ekonomi yang berkelimpahan dan system pemerintahan yang kuat. Namun nilai hidup mereka sebagai umat Tuhan justru merosot karena mereka tidak takut akan Tuhan. Keadilan yang seharusnya memberi rasa aman berubah menjadi kepahitan, mematikan dan menyakitkan. Orang miskin di tindas dan orang benar direndahkan”, tegas Pendeta Marta.
Ditambahkannya bahwa Pada konteks ini nabi Amos tampil mengkritik para elit dan penguasa agar mereka kembali menegakkan keadilan.
Ada tiga kritikan nabi Amos, yaitu:
1. Praktek hukum yang tidak adil
“Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh…” (ay 7) kata ipuh diartikan sebagai yang “pahit” atau “racun”. Kata ini ditujukan kepada para penegak hukum yang mengubah keadilan menjadi kepahitan dan racun yang mematikan bagi orang-orang lemah. Hukum yang tidak berpihak kepada rakyat, hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Sehingga banyak kasus-kasus hukum yang tidak terselesaikan dengan adil.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










