Opini  

Nyaring Tapi Tak Bernyali: Kritik dan Pembelaan Palsu di Balik Akun Anonim

Avatar photo
IMG 20250308 201826
Ermelinda Noh Wea

Penulis : Ermelinda Noh Wea

Di tengah kemajuan teknologi dan masifnya penggunaan media sosial, ruang publik kini telah berpindah dari alun-alun kota ke layar-layar ponsel. Warga sipil, pejabat, pengamat, hingga buzzer kini berlomba menyuarakan opini, memperdebatkan kebijakan, dan membangun citra di jagat maya. Namun, satu fenomena yang kian mencolok adalah membanjirnya kritik maupun pembelaan terhadap pemerintah daerah yang datang dari akun-akun anonim yang tidak menunjukkan identitas jelas, menggunakan nama samaran, foto profil palsu, dan informasi yang tak dapat diverifikasi. Ini bukan hanya masalah etika digital, melainkan juga persoalan mendasar dalam demokrasi dan pertanggungjawaban publik.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Demokrasi butuh Keberanian, Bukan Kepengecutan

Demokrasi menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Namun, kebebasan itu tidak datang tanpa tanggung jawab. Ketika seseorang menyampaikan kritik terhadap pemerintah daerah baik terkait transparansi anggaran, tata kelola, korupsi, hingga pelayanan publik maka kritik tersebut semestinya dibangun atas dasar niat baik, disertai data, dan disampaikan secara terbuka. Begitu juga dengan mereka yang membela pemerintah: pembelaan harus berdasarkan fakta, bukan fanatisme kosong atau bayaran untuk membentuk opini publik palsu.