Kain Sarung Dhowik merupakan identitas masyarakat adat Mbay-Dhawe kemudian Hoba Nage berasal dari Kampung adat Gero dan Telopoi kepunyaan suku Rendu. Dilihat dari proses pembuatannya, Hoba Nage masuk kategori tenun ikat, sedangkan Ragi Mbay dan Telopoi Rendu adalah songket.
Hoba Nage yang didominasi warna merah marun, hitam, dan putih, Hoba Nage pada masa lalu biasanya dikenakan oleh perempuan, sedang kaum pria umumnya mengenakan kain tenun Mbay.
Kemudian Dhowik memiliki motif keemasan dan Telopoi punya warna dasar merah hati dikombinasi motif bergaris.
“Kalau yang warna-warni sudah beragam itu kan sesuai dengan selera, sering perkembangan jaman ini kan banyak modifikasi warna” jelas Teresia di Kantor Dekranasda belum lama ini.
Dijelaskan Teresia, pembuatan songket lebih rumit karena ada proses semacam menyulam atau menganyam motif saat proses menenun. Penenun menambah benang pakaian sebagai hiasan atau motif dengan cara menyisipkan benang berwarna di atas benang lungsi. Untuk memproduksi songket Mbay dibutuhkan waktu beberapa bulan. “Songket lebih sulit, makanya tidak semua orang baja tenun karena penenun harus teliti dan hitung betul motif-motif yang dibuat itu” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
