Namun, efektivitas ini masih bersifat sementara. Pasokan beras SPHP memang ditargetkan dikucurkan sampai Desember, tetapi pertanyaan strategisnya adalah: apa yang terjadi setelah itu? Jika pola intervensi hanya sebatas “pemadam kebakaran”, maka fluktuasi harga bisa kembali membesar. Ketahanan pangan tidak bisa semata-mata bertumpu pada operasi pasar, melainkan harus ditopang dengan produktivitas pertanian, modernisasi rantai pasok, hingga efisiensi distribusi antarwilayah.
Menurut saya, kebijakan beras SPHP layak untuk dilanjutkan hingga Desember, terutama sebagai penyangga harga dan menjaga psikologis pasar. Namun setelah itu, perlu ada transisi menuju strategi stabilisasi berkelanjutan: memperkuat cadangan beras pemerintah, mengefisienkan distribusi antar-daerah, serta mendukung petani melalui akses pupuk, benih unggul, dan teknologi.
Selain beras, pemerintah juga mesti memperhatikan komoditas pangan strategis lain yang memiliki efek domino terhadap inflasi dan biaya hidup masyarakat. Daging, minyak goreng, bawang putih, dan tepung terigu jelas penting karena menjadi bahan baku utama rumah tangga maupun industri. Jika harga komoditas ini bergejolak, dampaknya akan meluas ke sektor lain, termasuk UMKM kuliner, industri makanan, hingga konsumsi rumah tangga.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












