Jemuran belum sempat dipindahkan. Awalnya saya merasa bingung, apakah jemuran pada bait ini merujuk pada tempat atau pakaian. Bila jemuran sebagai tempat, barang terntu penyair hendak membahasakan secara simbolis sumber dosa kita: dari dalam jiwa, hati, budi dan pikiran atau dari luar, bagian tubuh yang secara fisik kelihatan dan tempat dituangkannnya segala sesuatu yang muncul dari dalam, misalnya dalam tutur kata dan tindakan. Jemuran yang belum sempat dipindahkan menunjukkan kelalaian atau kelupaan seorang manusia, juga dalam konteks paskah bisa dipahami sebagai dosa yang belum ditanggalkan, yang butuh untuk mengalami pembaharuan ke arah yang lebih baik.
Pada akhirnya Tuhan memang ada di mana-mana kan? Seperti dalam Puisi Paskah 2015 karya Reinard L Melo di atas, segala sesuatu menjadi benar bahwa Tuhan berbicara dalam realitas yang kita jumpai sehari-hari, ketika kita lupa mengangkat jemuran, mendongakkan kepala dan melihat di langit ada tanda kehadiran Tuhan melalui kilat. Semua ini adalah inspirasi puisi yang dipersembahkan untuk Tuhan. Namun bagi kita dalam masa paskah ini, peristiwa di sekitar semacam tadi bukan inspirasi biasa melainkan upaya membangun kesadaran bahwa Tuhan itu ada di sekitar kita. Tuhan tidak hanya dijelaskan secara teori dalam buku-buku ilmiah sebagaimana dilakukan oleh para filsuf kondang, tetapi untuk kita cukup sederhana saja: melalui peristiwa konkret di sekitar kita. Hiruplah udara, ituiah Tuhan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










