Namun mitologi adalah sejenis konstruksi sosial. Ia tidak membutuhkan basis fundamental, cukup keyakinan kolektif yang terus dipelihara. Dan seperti semua narasi massa, ia beroperasi melalui media, komunitas, influencer, dan algoritma platform digital yang memperkuat eksposur bagi konten yang menggugah emosi. Maka Bitcoin bukan hanya tentang blockchain dan hash rate, tetapi tentang rasa takut tertinggal, hasrat untuk diakui secara finansial, dan kebutuhan psikologis generasi digital untuk memiliki simbol kemandirian ekonomi.
Di sinilah letak paradoks utama: Bitcoin diklaim sebagai aset alternatif, padahal definisi aset dalam teori ekonomi sejak awal adalah sesuatu yang menghasilkan aliran nilai. Saham memberi dividen. Obligasi memberi bunga. Properti memberi sewa. Bitcoin tidak. Ia tidak menciptakan arus kas. Ia tidak memproduksi manfaat riil. Satu-satunya alasan seseorang membeli Bitcoin adalah karena ia berharap ada orang lain yang bersedia membayar lebih mahal di kemudian hari. Nilainya tidak melekat pada fungsi produktif, tetapi pada ekspektasi psikologis yang terus diulang oleh narasi kolektif.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












