Opini  

Efisiensi TKD 2026: Saatnya Daerah Berhenti Bergantung dan Mulai Kreatif Secara Fiskal

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20250916 WA0015

Seperti diakui Gubernur Maluku Utara, dengan TKD yang ada “hanya cukup untuk belanja rutin”. Artinya, APBD telah terjebak dalam pola konsumtif birokrasi, bukan produktif ekonomi. Kondisi ini terjadi karena dua hal:

1) Daerah gagal menciptakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru, dan

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

2) Pola anggaran belum diarahkan pada hasil (outcome based budgeting), melainkan sekadar penyerapan.

2. Efisiensi Bukan Sekadar Penghematan, Tapi Redefinisi Prioritas

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian benar: masih banyak pemborosan di birokrasi. Efisiensi tidak cukup hanya memangkas, tapi harus menggeser alokasi dari yang tidak berdampak ke yang bernilai publik tinggi.

Contoh dari Bupati Lahat layak diapresiasi: memotong anggaran perjalanan dinas dan mengalihkannya ke irigasi. Ini bukan sekadar efisiensi, tapi reorientasi fiskal — uang publik dikembalikan kepada kebutuhan produktif masyarakat.

Artinya, Pemda harus berani melakukan:

• Audit efektivitas program: mana yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat, mana yang sekadar rutinitas.