Lebih berbahaya lagi, ketergantungan komoditas sering melemahkan dorongan reformasi struktural. Selama harga global tinggi, tekanan untuk berinvestasi pada industri berteknologi, riset, dan peningkatan produktivitas cenderung mereda. Negara merasa berada dalam kondisi aman, padahal sebenarnya sedang menggadaikan masa depannya. Banyak negara terjebak Middle Income Trap karena gagal keluar dari pola ini. Indonesia berisiko mengulang kesalahan yang sama, hanya dengan komoditas yang berbeda.
Di tengah struktur ekonomi yang rapuh ini, Indonesia kerap mengandalkan narasi bonus demografi sebagai harapan masa depan. Hingga sekitar 2035, mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Dalam teori ekonomi, kondisi ini seharusnya mendorong pertumbuhan pesat. Namun demografi hanya menyediakan peluang, bukan jaminan.
Fakta di lapangan menunjukkan kualitas sumber daya manusia masih tertinggal. Rata-rata lama sekolah masih di bawah sembilan tahun. Kualitas pendidikan dasar dan menengah lemah. Skor PISA konsisten berada di papan bawah. Pada saat yang sama, pengangguran terdidik tetap tinggi, mencerminkan ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan ekonomi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












