Kalimat sederhana itu adalah pukulan telak bagi wajah pemerintahan. Kalimat itu menggambarkan betapa rapuhnya kehidupan rakyat ketika infrastruktur vital dibiarkan rusak. Mereka sadar betul bahwa perbaikan yang mereka lakukan hanya bersifat sementara. Mereka tahu, tanpa perbaikan permanen dari pemerintah, kerusakan akan datang kembali, dan kesulitan yang sama akan menghampiri mereka lagi. Namun, mereka tidak punya pilihan lain selain berjuang sendiri, karena yang seharusnya menjadi pelindung dan penyedia fasilitas justru memilih menjadi penonton diam.
Di tengah semua kesulitan ini, ada satu pertanyaan yang tak terhindarkan: Apakah ini balasan yang pantas diberikan pemerintah kepada rakyatnya?
Rakyat kecil seperti warga Desa Tunbaun tidak pernah menolak kewajiban mereka. Mereka tetap membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tepat waktu. Mereka tetap memenuhi kewajiban-kewajiban lain yang ditetapkan negara. Mereka percaya bahwa uang yang mereka bayarkan akan kembali kepada mereka dalam bentuk fasilitas dan pelayanan yang layak. Namun, apa yang mereka dapatkan? Jalan yang rusak parah, keluhan yang tidak didengar, dan penguasa yang bersikap seperti orang buta tuli ketika rakyat bersuara.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












