Marince menegaskan, mempertahankan motif Loka merupakan bagian dari upaya menjaga identitas budaya Desa Obaki.
“Motif Loka itu adalah ciri budaya dan harga diri kami. Tetapi mau omong harga diri dan budaya bagaimana kalau orang lain tidak tahu. Kalau orang tahu, maka dia bisa beli kita punya sarung,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan pewarnaan alam dan bantuan peralatan serta bahan tenun dari Pemerintah Provinsi NTT dapat menjadi awal terbukanya peluang baru bagi kelompok pengrajin di Desa Obaki.
Menurutnya, kemampuan memproduksi tenun sebenarnya sudah dimiliki masyarakat. Kendala terbesar justru bagaimana memperkenalkan dan memasarkan produk tersebut ke luar desa.
Marince mengaku belum mengetahui secara detail mengenai NTT Mart yang disebut sebagai salah satu tempat promosi produk lokal. Ia hanya mengetahui keberadaannya di Soe dan Kupang.
Persoalan jarak menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin Obaki.
“Kami justru lebih dekat ke Malaka. Kalau ada NTT Mart di Malaka, lebih baik kami jual kami punya hasil tenun ini di Malaka saja,” harapnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












