Menanti Tragedi Air Mata Bola Bintang Timur Atambua

FlobamoraNews

BELU, Flobamora-news.com –Bicara Bintang Timur Atambua dalam perhelatan babak penyisihan Grup D memperebutkan tiket Perdelapan Final Piala El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 di Kabupaten Malaka, saya kembali teringat akan sebuah buku yang dibuat Kompas dari kumpulan tulisan Sindhunata.

Ragam cerita tentang sepakbola itulah yang ditulis Sindhunata dalam bukunya Air Mata Bola. Buku ini adalah bagian kedua dari trilogi catatan sepakbola Sindhunata yang merupakan kumpulan tulisannya di harian Kompas pada periode 1992 hingga 2000.

Seperti yang selalu dikatakan orang, sepakbola bukan sekadar permainan. Selalu ada drama di sana, selalu ada tautan menuju aspek yang lain dalam kehidupan manusia. Sepakbola bukan hanya sekadar sebuah olahraga yang mempertemukan 22 anak manusia di atas lapangan hijau.

Baca Juga :  Perse Ende Rebut Tiket Pertama Perdelapan Final ETMC 2019

Tidak ada perhelatan yang begitu mampu menyedot perhatian warga dunia melebihi perhelatan piala dunia sepakbola. Ketika sebuah piala dunia akhirnya digelar, maka seluruh pelosok bumi seakan dilanda demam sepakbola. Tua, muda, lelaki, wanita, hampir semuanya memusatkan pikiran pada sebuah olahraga yang konon disebut sebagai olahraga paling populer.

Sepakbola juga adalah lambang nasionalisme, olahraga di mana karakter dan nama baik sebuah bangsa dibawa ke atas lapangan hijau. Di lapangan hijaulah berkumpul 22 orang yang bagai gladiator saling berebut dan mempertahankan harga diri dan martabat pribadi dan bangsanya.

Baca Juga :  Tarian Persahabatan meriahkan Pembukaan Liga Fronteira RI-RDTL 2019

Sepakbola juga industri, sebuah lapangan luas yang menyedot begitu banyak manusia ke dalamnya yang kemudian diolah menjadi gelimangan dollar atau euro. Para lelaki kekar itu diperas tenaganya, diperjualbelikan secara halus dengan menjaga pundi-pundi uang tetap gendut.

Begitulah, sepakbola tidak selamanya berbicara tentang olahraga dan idealisme, tapi juga menjadi sebuah bentuk penjajahan baru, bentuk baru sebuah industri dan bentuk baru sebuah penindasan.

Tulisan ini berasal dari redaksi