Ricky Ekaputra Foeh.,MM – Dosen FISIP UNDANA
KUPANG, Flobamora-News.com – Sejak dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, Purbaya Yudhi Sadewa memicu kegelisahan sekaligus harapan lewat kebijakan “suntik likuiditas” senilai Rp 200 triliun ke bank-bank BUMN—yang kini dikenal publik sebagai Purbaya Effect. Langkah ini diklaim sebagai bahan bakar untuk menghidupkan sektor riil dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Namun, kritik keras datang dari ekonom Ferry Latuhihin, yang menyebut kebijakan tersebut “melampaui batas hukum ekonomi” dan berpotensi melemahkan fondasi makro.
Perdebatan ini penting: strategi yang dipilih hari ini akan menentukan apakah Indonesia bangkit lebih kuat atau justru masuk ke jebakan risiko baru.
1. Esensi “Purbaya Effect”
Kebijakan ini berawal dari langkah Purbaya memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Bank Indonesia ke lima bank milik negara. Tujuannya sederhana namun berani: memperbesar likuiditas agar bank bisa menurunkan suku bunga kredit, mempercepat penyaluran pembiayaan, dan mendongkrak konsumsi serta investasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












