Peristiwa tragis ini menjadi alarm keras bahwa kemiskinan ekstrem dan ketimpangan akses pendidikan masih nyata terjadi di wilayah timur Indonesia, bahkan berdampak fatal pada kehidupan anak-anak bangsa.
Erles menegaskan bahwa gerakan ayah dan ibu angkat ini tidak boleh hanya sebatas wacana sosial, melainkan harus disinergikan secara sinergis dengan pemerintah daerah dan pusat, lembaga pendidikan, tokoh agama, serta organisasi kemanusiaan di seluruh Indonesia.
Ia berharap gerakan ini dapat menjadi simbol bahwa Indonesia benar-benar merupakan satu kesatuan yang utuh, dari Sabang sampai Merauke. “NTT adalah bagian sah dari masa depan Indonesia. Anak-anak NTT bukan hanya anak daerah — mereka adalah anak bangsa yang memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Erles mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil bagian nyata dalam menyikapi persoalan ini. “Ini bukan sekadar kabar duka dari daerah terpencil. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang harus kita hentikan bersama-sama. Negara dan masyarakat wajib hadir dengan tindakan nyata sebelum lebih banyak anak kehilangan kesempatan untuk meraih masa depannya,” tegasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












