Opini  

Bitcoin Bukan Aset, Melainkan Permainan Psikologi Bermodal Likuiditas

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20251020 WA0014

Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, M.M Dosen Administrasi Bisnis FISIP UNDANA & Analis Ekonomi Digital

KUPANG, Flobamora-News.com – Bitcoin diperkenalkan sebagai simbol revolusi finansial: terdesentralisasi, kebal sensor, dan bebas dari otoritas bank sentral. Dalam narasi publik, ia adalah lambang perlawanan terhadap sistem keuangan tradisional yang dianggap elitis dan eksklusif. Namun, semakin dalam kita mengamati kenyataan di pasar, semakin jelas bahwa Bitcoin tidak bekerja semata berdasarkan logika teknologi, melainkan mengikuti irama psikologi massa dan pergerakan likuiditas. Bukan sekadar aset digital, Bitcoin adalah arena distribusi perilaku dengan daya tarik narasi, bukan kekuatan fundamental.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sebagian besar masyarakat mengenal Bitcoin bukan dari kajian teknologi blockchain, melainkan dari euforia harga. Mereka mendengar cerita seseorang yang “merdeka finansial” hanya karena menyimpan Bitcoin di fase awal, atau kisah viral tentang pembelian rumah, mobil, bahkan gaya hidup mewah berkat kenaikan harga crypto. Cerita semacam ini membentuk imajinasi kolektif bahwa Bitcoin adalah tiket cepat menuju kebebasan ekonomi. Di titik ini, Bitcoin berhenti dipahami sebagai teknologi dan menjelma menjadi mitologi modern tentang kekayaan instan.