Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, M.M Dosen Administrasi Bisnis FISIP UNDANA & Analis Ekonomi Digital
KUPANG, Flobamora-News.com – Bitcoin diperkenalkan sebagai simbol revolusi finansial: terdesentralisasi, kebal sensor, dan bebas dari otoritas bank sentral. Dalam narasi publik, ia adalah lambang perlawanan terhadap sistem keuangan tradisional yang dianggap elitis dan eksklusif. Namun, semakin dalam kita mengamati kenyataan di pasar, semakin jelas bahwa Bitcoin tidak bekerja semata berdasarkan logika teknologi, melainkan mengikuti irama psikologi massa dan pergerakan likuiditas. Bukan sekadar aset digital, Bitcoin adalah arena distribusi perilaku dengan daya tarik narasi, bukan kekuatan fundamental.
Sebagian besar masyarakat mengenal Bitcoin bukan dari kajian teknologi blockchain, melainkan dari euforia harga. Mereka mendengar cerita seseorang yang “merdeka finansial” hanya karena menyimpan Bitcoin di fase awal, atau kisah viral tentang pembelian rumah, mobil, bahkan gaya hidup mewah berkat kenaikan harga crypto. Cerita semacam ini membentuk imajinasi kolektif bahwa Bitcoin adalah tiket cepat menuju kebebasan ekonomi. Di titik ini, Bitcoin berhenti dipahami sebagai teknologi dan menjelma menjadi mitologi modern tentang kekayaan instan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












