“Kami berharap kerja keras semua pihak untuk bersama-sama pemerintah membantu menekan angka stunting di NTT bisa tercapai,” kata Ayodhia G. L. Kalake dikutip Antara belum lama ini.
Pemerintah NTT menyebutkan penderita stunting terus mengalami penurunan turun. Prevalensi stunting di NTT pada 2018 di angka 35,4 persen atau 81.434 penderita turun menjadi 15,7 persen atau 67.518 balita pada 2023.
Ayodia mengatakan meningkatkan kunjungan balita ke posyandu yang dilakukan setiap bulan secara rutin bisa membantu dalam mendeteksi anak-anak yang mengalami stunting secara dini, sehingga penanganan anak stunting menjadi lebih mudah.
“Kerja keras semua pihak untuk terus berupaya menekan angka stunting dengan meningkatkan kunjungan balita ke posyandu setiap bulan tidak hanya pada periode Februari dan Agustus saat dilakukan bulan timbang bagi balita,” kata Ayodhia G. L. Kalake.
Kerja sama semua perangkat daerah, camat, kepala desa/lurah dan meningkatkan kunjungan tenaga kesehatan ke sasaran ibu hamil bisa menekan stunting di NTT. “Kepala desa atau lurah dan masyarakat dapat mengawal mendukung ibu hamil untuk datang ke fasilitas kesehatan minimal enam kali selama masa kehamilan,” pesan Ayodia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










