Perjuangan kesetaraan bukan semata tentang jumlah, tetapi tentang perubahan cara pandang. Representasi perempuan di ruang pengambil keputusan tidak akan bermakna jika kehadiran mereka hanya dijadikan simbol. Kita membutuhkan sistem yang memberi ruang bagi perempuan untuk berpengaruh secara nyata, bukan sekedar “mengisi kuota”.
Kesetaraan sejati menuntut perubahan dari dua arah dari struktur dan dari kesadaran. Negara perlu menjamin kebijakan yang mendukung perempuan bekerja dan memimpin tanpa kehilangan martabatnya. Namun masyarakat juga harus belajar melepaskan bias-bias lama yang menempatkan perempuan sebagai pelengkap.
Media dan pendidikan memiliki tanggungjawab besar dalam hal ini. Setiap kali media lebih menyoroti penampilan fisik pemimpin perempuan daripada gagasan dan kinerjanya, kita sedang memperkuat bias yang sama. Sebaliknya, ketika media menampilkan perempuan sebagai pembuat keputusan yang rasional, berintegritas, dan kompeten, masyarakat perlahan akan mengubah persepsinya.
Kita sering lupa bahwa kepemimpinan bukan sekedar soal memerintah, tetapi soal mengarahkan, mendengar, dan menyembuhkan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak pemimpin yang berteriak, tetapi lebih banyak pemimpin yang memahami. Dan di situlah kekuatan perempuan berada.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












