Opini  

Dari Bias Menuju Kesetaraan Mendorong Kepemimpinan Perempuan di Semua Level

Avatar photo
IMG 20250308 201826
Ermelinda Noh Wea

Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan sekedar rendahnya angka, melainkan kerasnya tembok tidak terlihat yang menghalangi perempuan melangkah. Perempuan yang tegas dianggap “galak”, yang berani disebut ambisius, sementara yang lembut dipandang “tidak cukup kuat”. Mereka harus terus membuktikan diri, tidak hanya terhadap sistem, tetapi juga terhadap persepsi masyarakat yang masih menganggap kepemimpinan sebagai ranah laki-laki.

Beban domestik mempertebal jurang itu. Perempuan masih dipanggil pulang oleh dapur, bahkan ketika ia sedang membangun karier. Dalam banyak keluarga, keberhasilan perempuan di ruang publik masih dianggap tambahan, bukan pencapaian. Dan di ruang profesional, kebijakan yang tidak ramah gender seringkali membuat perempuan harus memilih padahal mereka mampu menjalani keduanya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kepemimpinan perempuan tidak lahir untuk meniru laki-laki. Ia hadir membawa perspektif lain yang selama ini absen kepekaan sosial, kesabaran dalam mendengarkan, keberanian mengambil keputusan tanpa kehilangan empati.