Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan sekedar rendahnya angka, melainkan kerasnya tembok tidak terlihat yang menghalangi perempuan melangkah. Perempuan yang tegas dianggap “galak”, yang berani disebut ambisius, sementara yang lembut dipandang “tidak cukup kuat”. Mereka harus terus membuktikan diri, tidak hanya terhadap sistem, tetapi juga terhadap persepsi masyarakat yang masih menganggap kepemimpinan sebagai ranah laki-laki.
Beban domestik mempertebal jurang itu. Perempuan masih dipanggil pulang oleh dapur, bahkan ketika ia sedang membangun karier. Dalam banyak keluarga, keberhasilan perempuan di ruang publik masih dianggap tambahan, bukan pencapaian. Dan di ruang profesional, kebijakan yang tidak ramah gender seringkali membuat perempuan harus memilih padahal mereka mampu menjalani keduanya.
Kepemimpinan perempuan tidak lahir untuk meniru laki-laki. Ia hadir membawa perspektif lain yang selama ini absen kepekaan sosial, kesabaran dalam mendengarkan, keberanian mengambil keputusan tanpa kehilangan empati.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












