Opini  

Dari Bias Menuju Kesetaraan Mendorong Kepemimpinan Perempuan di Semua Level

Avatar photo
IMG 20250308 201826
Ermelinda Noh Wea

Oleh : Ermelinda Noh Wea

Kita hidup di tengah peradaban yang terlalu lama menulis kisah kepemimpinan dengan satu warna maskulin. Pemimpin digambarkan gagah, keras, rasional, dan dominan. Sementara itu, kelembutan, empati, dan intuisi nilai-nilai yang sering diidentikkan dengan perempuan dipinggirkan, dianggap sekedar pelengkap, bukan kekuatan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Akibatnya, banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa ruang mereka bukan di depan, melainkan di samping. Bahwa tugas mereka bukan memimpin, melainkan mendukung. Pola pikir seperti ini telah mengakar begitu dalam hingga kita jarang menyadari bahwa ketimpangan itu bukan kodrat, melainkan konstruksi sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, saat dunia menghadapi krisis multidimensi dari lingkungan, ekonomi, hingga kemanusiaan kita perlu bertanya dengan jujur mungkinkah dunia yang dibangun dengan satu jenis kepemimpinan mampu bertahan? Mungkin sudah saatnya kita mengizinkan suara lain, cara lain, dan hati lain untuk memimpin.

Meskipun perempuan Indonesia telah menembus banyak batas, bias terhadap kepemimpinan mereka tetap nyata. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa hanya sekitar 30 persen perempuan yang berhasil mencapai posisi strategis di sektor publik maupun swasta. Di politik, angka keterwakilan perempuan di parlemen masih belum menyentuh target 30 persen yang ideal.