Oleh : Ermelinda Noh Wea
Kita hidup di tengah peradaban yang terlalu lama menulis kisah kepemimpinan dengan satu warna maskulin. Pemimpin digambarkan gagah, keras, rasional, dan dominan. Sementara itu, kelembutan, empati, dan intuisi nilai-nilai yang sering diidentikkan dengan perempuan dipinggirkan, dianggap sekedar pelengkap, bukan kekuatan.
Akibatnya, banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa ruang mereka bukan di depan, melainkan di samping. Bahwa tugas mereka bukan memimpin, melainkan mendukung. Pola pikir seperti ini telah mengakar begitu dalam hingga kita jarang menyadari bahwa ketimpangan itu bukan kodrat, melainkan konstruksi sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, saat dunia menghadapi krisis multidimensi dari lingkungan, ekonomi, hingga kemanusiaan kita perlu bertanya dengan jujur mungkinkah dunia yang dibangun dengan satu jenis kepemimpinan mampu bertahan? Mungkin sudah saatnya kita mengizinkan suara lain, cara lain, dan hati lain untuk memimpin.
Meskipun perempuan Indonesia telah menembus banyak batas, bias terhadap kepemimpinan mereka tetap nyata. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa hanya sekitar 30 persen perempuan yang berhasil mencapai posisi strategis di sektor publik maupun swasta. Di politik, angka keterwakilan perempuan di parlemen masih belum menyentuh target 30 persen yang ideal.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












