Dari sudut pandang psikologi, perubahan fungsi ini penting dicermati. Sesuatu yang awalnya bermakna simbolik dapat berubah menjadi alat regulasi emosi, seperti cara mengelola stres, kelelahan hidup, dan tekanan ekonomi yang terus menghimpit.
Di titik ini, isu psikologis sering kali menjadi senyap. Minum dianggap hal biasa, wajar, bahkan perlu. Jarang ada ruang untuk bertanya apakah di balik konsumsi itu tersimpan kelelahan mental, kecemasan, kemarahan, atau rasa putus asa yang tidak menemukan saluran lain. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai coping maladaptif, yaitu strategi bertahan yang memberi kelegaan sesaat, tetapi menyimpan risiko jangka panjang bagi kesehatan mental, relasi keluarga, dan kohesi sosial. Namun, membaca moke semata dari sudut bahaya psikologis juga tidak adil.
Dalam realitas Maumere, moke bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga soal produksi dan penghidupan. Bagi banyak keluarga, moke adalah sumber ekonomi yang nyata, stabil, dan diwariskan lintas generasi.
Dalam keterbatasan lapangan kerja, moke menjadi salah satu cara bertahan hidup. Di sinilah dalil ekonomi berdiri kokoh dan sulit dibantah. Ketika moke menjadi penopang dapur keluarga, kritik terhadapnya sering kali dipersepsikan sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












