Oleh: Ilhamsyah Muhammad Nurdin M.Psi Dosen Universitas Muhammadiyah Maumere
MAUMERE, Flobamora-news.com – Apakah moke harus selalu dilihat semata-mata sebagai budaya yang tak boleh disentuh kritik, atau justru sebagai fenomena sosial yang perlu dibaca lebih jujur, termasuk dari sisi psikologinya?
Pertanyaan ini muncul bukan dari jarak yang jauh, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari bersama masyarakat Maumere, menyaksikan bagaimana moke hadir, diterima, dan dinormalisasi dalam berbagai ruang kehidupan.
Sebagai orang yang berasal dari luar tetapi kini hidup dan menetap di Maumere, tulisan ini tidak lahir dari posisi menghakimi, melainkan dari upaya memahami. Hidup bersama masyarakat membuka kesadaran bahwa moke bukan sekadar minuman keras, tetapi memiliki makna sosial dan historis. Ia hadir dalam ritus, perayaan, relasi kekeluargaan, dan menjadi simbol kebersamaan.
Dalam perspektif psikologi budaya, praktik semacam ini berfungsi sebagai perekat sosial dan penanda identitas kolektif. Namun persoalan mulai muncul ketika batas antara moke sebagai simbol budaya dan moke sebagai kebiasaan konsumsi sehari-hari menjadi semakin kabur. Normalisasi terjadi ketika moke tidak lagi hadir dalam konteks tertentu, tetapi menjadi bagian rutin dari kehidupan sosial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












