Purbaya menyebut pendekatan ini sebagai “memaksa sistem untuk bekerja.” Bank yang tidak menyalurkan kredit tetap harus membayar bunga ke negara—sebuah mekanisme insentif dan penalti yang belum pernah diterapkan sebelumnya.
Dalam pandangan Purbaya, struktur ekonomi Indonesia yang 90 persen digerakkan oleh permintaan domestik membutuhkan intervensi fiskal-likuiditas agar roda ekonomi tidak macet. Dan benar saja, pasar sempat merespons positif. IHSG menguat, saham perbankan naik, dan indeks kepercayaan bisnis meningkat. Setidaknya dalam jangka pendek, Purbaya Effect tampak berhasil menyuntikkan optimisme baru ke sistem keuangan.
2. Kritik Ferry Latuhihin: di Mana Letak Masalahnya?
Ferry Latuhihin menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertahan di kisaran 5 persen terlalu rendah untuk menampung lonjakan angkatan kerja muda. Dibandingkan Vietnam atau India yang tumbuh di atas 7 persen, Indonesia dianggap berjalan di tempat.
Ia juga mempertanyakan keabsahan data pertumbuhan 5,12 persen pada kuartal II 2025, karena indikator lain seperti PMI manufaktur dan penerimaan PPN justru melemah. Menurut Ferry, ada ketidaksinkronan antara klaim optimisme dan realitas lapangan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












