Padahal, setiap daerah memiliki konteks berbeda. Cara belajar anak di Nusa Tenggara Timur tentu tak bisa disamakan dengan anak di Jakarta. Tetapi sistem sentralistik membuat semua harus seragam. Akibatnya, kreativitas guru dan siswa terpasung oleh format. Pendidikan kehilangan keberagaman, padahal justru di sanalah sumber pembelajaran yang sejati.
Kita bisa belajar dari praktik di beberapa negara Skandinavia, di mana kurikulum memberi ruang luas bagi guru untuk berinovasi dan bagi siswa untuk berpikir kritis. Tapi bukan berarti kita harus meniru sepenuhnya. Intinya, sistem pendidikan yang sehat adalah yang mempercayai guru dan menghargai proses berpikir, bukan sekadar hasil angka.
Guru: Antara Ideal dan Realitas
Tak bisa disangkal, guru memegang peran kunci dalam perubahan ini. Namun, banyak guru kita bekerja dalam tekanan berat. Mereka dituntut memenuhi administrasi, melaporkan nilai, dan mengejar target kurikulum yang padat. Di tengah beban itu, ruang untuk refleksi dan inovasi nyaris hilang. Akibatnya, mengajar menjadi rutinitas, bukan panggilan intelektual.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












