Opini  

Sekolah yang Menghafal, Bukan Memahami: Akar Masalah Pendidikan Kita

Avatar photo
IMG 20251013 WA0050
Laurensius Bagus

Padahal, setiap daerah memiliki konteks berbeda. Cara belajar anak di Nusa Tenggara Timur tentu tak bisa disamakan dengan anak di Jakarta. Tetapi sistem sentralistik membuat semua harus seragam. Akibatnya, kreativitas guru dan siswa terpasung oleh format. Pendidikan kehilangan keberagaman, padahal justru di sanalah sumber pembelajaran yang sejati.

Kita bisa belajar dari praktik di beberapa negara Skandinavia, di mana kurikulum memberi ruang luas bagi guru untuk berinovasi dan bagi siswa untuk berpikir kritis. Tapi bukan berarti kita harus meniru sepenuhnya. Intinya, sistem pendidikan yang sehat adalah yang mempercayai guru dan menghargai proses berpikir, bukan sekadar hasil angka.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Guru: Antara Ideal dan Realitas

Tak bisa disangkal, guru memegang peran kunci dalam perubahan ini. Namun, banyak guru kita bekerja dalam tekanan berat. Mereka dituntut memenuhi administrasi, melaporkan nilai, dan mengejar target kurikulum yang padat. Di tengah beban itu, ruang untuk refleksi dan inovasi nyaris hilang. Akibatnya, mengajar menjadi rutinitas, bukan panggilan intelektual.