Opini  

Sekolah yang Menghafal, Bukan Memahami: Akar Masalah Pendidikan Kita

Avatar photo
IMG 20251013 WA0050
Laurensius Bagus

Plato dalam Republic-nya menggambarkan pendidikan ideal sebagai proses mengantar jiwa keluar dari gua kegelapan menuju cahaya pengetahuan. Ironisnya, sistem pendidikan kita justru sering menarik murid kembali ke dalam gua—menutup mata dari kenyataan, menolak pertanyaan, dan membiarkan mereka nyaman dalam bayangan hafalan.

Pendidikan sebagai Ruang Pembebasan

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan membelenggu. Ia bukan alat negara untuk menertibkan warga, tetapi ruang bagi manusia untuk memahami dirinya dan dunianya. Dalam arti itu, sekolah yang baik bukanlah yang mencetak nilai tertinggi, melainkan yang menumbuhkan keberanian berpikir dan kejujuran intelektual.

Kita bisa terus membangun laboratorium baru, mengganti kurikulum, atau memberi bantuan digital, tapi semua itu tidak berarti apa-apa kalau cara berpikir kita masih sama: menghafal untuk ujian, bukan memahami untuk kehidupan.

Sudah saatnya kita keluar dari tradisi hafalan dan kembali pada semangat sejati pendidikan seperti yang diajarkan para filsuf besar: berpikir, mempertanyakan, dan memahami. Sebab bangsa yang hanya menghafal akan berhenti di masa lalu, sementara bangsa yang memahami akan mampu menciptakan masa depan.