Plato dalam Republic-nya menggambarkan pendidikan ideal sebagai proses mengantar jiwa keluar dari gua kegelapan menuju cahaya pengetahuan. Ironisnya, sistem pendidikan kita justru sering menarik murid kembali ke dalam gua—menutup mata dari kenyataan, menolak pertanyaan, dan membiarkan mereka nyaman dalam bayangan hafalan.
Pendidikan sebagai Ruang Pembebasan
Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan membelenggu. Ia bukan alat negara untuk menertibkan warga, tetapi ruang bagi manusia untuk memahami dirinya dan dunianya. Dalam arti itu, sekolah yang baik bukanlah yang mencetak nilai tertinggi, melainkan yang menumbuhkan keberanian berpikir dan kejujuran intelektual.
Kita bisa terus membangun laboratorium baru, mengganti kurikulum, atau memberi bantuan digital, tapi semua itu tidak berarti apa-apa kalau cara berpikir kita masih sama: menghafal untuk ujian, bukan memahami untuk kehidupan.
Sudah saatnya kita keluar dari tradisi hafalan dan kembali pada semangat sejati pendidikan seperti yang diajarkan para filsuf besar: berpikir, mempertanyakan, dan memahami. Sebab bangsa yang hanya menghafal akan berhenti di masa lalu, sementara bangsa yang memahami akan mampu menciptakan masa depan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












