Lebih dari dua ribu tahun lalu, filsuf Yunani Aristoteles menulis bahwa tujuan pendidikan adalah melatih pikiran agar dapat berpikir baik, bukan sekadar tahu banyak hal. Muridnya, Plato, bahkan menekankan pentingnya dialektika—proses tanya jawab dan diskusi yang memancing penalaran. Namun, semangat itu seakan lenyap di ruang kelas modern kita. Anak-anak Indonesia tumbuh dengan buku teks yang menjejalkan fakta tanpa memberi ruang bagi tafsir. Guru menjadi pusat kebenaran, bukan pemandu pencarian.
Kurikulum terus berubah, tetapi watak pendidikan kita tetap sama: menuntut hasil cepat, bukan pemahaman mendalam. Anak yang bisa menjawab seratus soal dengan benar dianggap pintar, walaupun ia tak benar-benar paham apa yang ia tulis. Dalam banyak kasus, bahkan guru sendiri terjebak dalam logika yang sama—mengajar untuk ujian, bukan untuk pemahaman.
Budaya Nilai dan Ketakutan pada Salah
Kita hidup dalam budaya pendidikan yang menghargai nilai, bukan nalar. Sejak SD, anak-anak diajarkan bahwa nilai tinggi berarti pintar, dan kesalahan adalah aib. Akibatnya, siswa takut mencoba hal baru, takut gagal, dan akhirnya memilih menghafal jawaban yang “aman”. Ini bukan sekadar masalah metode belajar, melainkan persoalan budaya berpikir.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












