Ketika seorang siswa diajarkan bahwa ada satu jawaban benar untuk setiap pertanyaan, maka kreativitas mati di tempat. Padahal, dunia modern menuntut kemampuan menafsir dan berpikir kritis. Di ruang kerja, di masyarakat, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan memahami jauh lebih dibutuhkan daripada kemampuan mengingat.
Contohnya sederhana. Seorang siswa mungkin bisa menghafal rumus luas segitiga, tetapi ketika diminta menjelaskan mengapa rumus itu demikian, ia terdiam. Ia bisa menuliskan definisi demokrasi dengan tepat, tapi tak mampu menjelaskan bagaimana prinsip itu bekerja dalam masyarakatnya sendiri. Inilah yang disebut krisis pemahaman—gejala yang menjalar di hampir semua jenjang pendidikan kita.
Sistem yang Menyuburkan Kekakuan
Masalahnya tidak berhenti di ruang kelas. Sistem pendidikan nasional kita tumbuh dari logika birokrasi, bukan logika pembelajaran. Pemerintah membuat kurikulum baku, guru harus mengikuti panduan yang kaku, dan siswa dinilai berdasarkan serangkaian ujian standar. Dalam situasi seperti ini, tidak ada ruang bagi eksplorasi intelektual. Guru yang mencoba metode berbeda sering justru ditegur karena dianggap “tidak sesuai aturan”.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












