“Dividen lebih kecil karena laba juga lebih rendah. Laba ditentukan oleh pendapatan dan biaya. Ketika pendapatan tidak tercapai dan biaya melebihi target, hal ini akan berdampak langsung pada besaran dividen,” jelasnya.
Menurut Charlie, sejumlah faktor menjadi penyebab penekanan kinerja laba Bank NTT sepanjang 2025. Faktor utama adalah melambatnya pertumbuhan kredit pada sebagian besar periode tahun berjalan. Meskipun penyaluran kredit baru menunjukkan pergerakan signifikan pada akhir tahun 2025, terutama pada bulan Oktober hingga Desember, perkembangan tersebut tidak mampu mengimbangi keterlambatan pada periode sebelumnya.
“Salah satu penyebab perlambatan kredit adalah pergantian manajemen pada bulan Mei 2025, dimana pada awal masa jabatan pengurus belum sepenuhnya jelas mengenai kondisi aktual bank, sehingga fokus manajemen terpengaruh dan penyaluran kredit menjadi lambat yang berdampak pada pendapatan yang tidak tercapai sesuai target,” ujar Charlie Paulus.
Faktor lain yang memengaruhi kinerja adalah pembebanan sejumlah kewajiban yang sebelumnya belum dicatat secara akuntansi. Charlie menegaskan bahwa praktik tersebut tidak bisa lagi ditoleransi oleh manajemen baru. Setelah melakukan penataan laporan keuangan, sejumlah kewajiban harus dicatat secara transparan, di antaranya adalah kewajiban pembayaran kepada PT. Jamkrindo sebesar Rp7,3 miliar serta cadangan kewajiban pajak.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












