Melalui NasDem, Anna Marlinda Boleng Siap Jadi Jembatan Aspirasi Perempuan

Avatar photo
IMG 20230805 173721
Anna Marlinda Boleng Caleg DPRD NTT Dapil V (Sikka, Ende, Nagekeo dan Ngada)

Linda melihat, fenomena minimnya keterlibatan perempuan dalam Pemilihan Legislatif sampai kepada perebutan kursi di parlemen baik di Senayan maupun sampai ke tingkat daerah sebenarnya sudah berlangsung lama, sejak era reformasi. Itu karena kaum perempuan cenderung dimanfaatkan sebagai alat politik melengkapi kuota tersebut. Parahnya lagi, caleg perempuan yang bersangkutan dengan tau dan mau dimanfaatkan hanya untuk kepentingan sesaat.

“Caleg perempuan ini hanya mau ditempatkan sebagai caleg sekedar pelengkap 30 persen tapi mereka tidak mau bekerja mencari suara maupun sosialisasi ke masyarakat, sehingga perolehan suaranya tidak signifikan” ungkapnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Di dalam sistem demokrasi, yang memegang prinsip kebebasan siapa saja bisa menjadi pemimpin dan berada didalam lingkungan parlemen atau menjadi eksekutif. Ketika perempuan sedikit berada dalam legislatif maka keterwakilan dan pemikiran dari perspektif perempuan justru akan hilang dan tidak terwakilkan.

Ketika laki-laki mendominasi di dalam legislatif maka akan timbul sebuah sistem sosial yang disebut patriarki. Di dalam buku Ade Irma Sakina, Dessy Hasanah Siti A. (2017). “Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia”disebutkan bahwa Patriarki berasal dari kata patriarki yang berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya.