Opini  

Rp 200 Triliun di Himbara: Antara Momentum Pertumbuhan dan Risiko Salah Arah

Avatar photo
Reporter : Bung R Editor: Redaksi
IMG 20250916 WA0015

Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, MM  Peneliti & Staf Pengajar Pada Universitas Nusa Cendana

Pemerintah menempatkan dana segar sebesar Rp200 triliun pada lima bank anggota Himbara (Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI) sebagai langkah untuk memperkuat likuiditas perbankan dan membuka ruang penyaluran kredit productif. Langkah ini secara teoretis tepat—peningkatan likuiditas dapat menurunkan hambatan pembiayaan—tetapi efektivitasnya akan bergantung pada desain implementasi, kapasitas penyaluran, dan kualitas permintaan kredit di lapangan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

1. Realitas struktural: potensi besar, sumbatan nyata

UMKM sejatinya adalah poros ekonomi nasional. Data resmi dan publik menempatkan kontribusi UMKM pada kisaran 61,07% terhadap PDB dan jumlah unit usaha puluhan juta; UMKM juga menyerap proporsi besar tenaga kerja nasional sebanyak: 97% dari total tenaga kerja (BPS & KemenkopUKM 2023), angka-angka ini menunjukkan bahwa kebijakan pembiayaan yang tepat pada UMKM memiliki potensi multiplier yang signifikan. Namun di sisi lain, penyaluran kredit UMKM menunjukkan tren lambat: data Bank Indonesia dan laporan keuangan perbankan menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM terbilang stagnan (Pertumbuhan kredit UMKM: melambat ke 1,67% YoY per Juni 2024 (BI), menandakan adanya mismatch antara potensi dan realisasi pembiayaan.