“Bagaimana kami bisa mengangkut hasil kebun kami yang berjarak dua kilometer jika jalan rabat tidak bisa dilalui mobil? Kami memberikan tanah untuk pembukaan jalan ini dengan harapan agar hasil kebun bisa diangkut dengan kendaraan roda empat,” ungkap Simon Taneo
Saya merasa bahwa kontribusi mereka dalam penyediaan lahan untuk proyek jalan tersebut tidak sebanding dengan manfaat yang mereka terima.
Proyek rabat beton sepanjang dua kilometer ini diketahui didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun 2024. Namun, hingga saat ini, kejelasan mengenai pembayaran tunjangan TPK masih belum menemui titik terang.
Simon Taneo menambahkan bahwa selama dua tahun terakhir, ia dan rekan-rekannya belum menerima tunjangan untuk proyek rabat tersebut. Selain tunjangan, biaya makan, minum, dan transportasi juga ditanggung sendiri. “Tunjangan per orang seharusnya satu juta rupiah, dan ada tujuh orang dalam tim. Namun, saya tidak tahu apakah anggota lain sudah menerima tunjangan atau belum,” ungkap Simon saat ditemui awak media di kediamannya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












