Irfan juga mengingatkan kepada sekolah-sekolah di setiap jenjang pendidikan di NTT untuk tidak boleh memaksa memberlakukan lima hari sekolah jika situasi dan kondisi di sekolahnya belum memungkinkan.
Kata Irfan, building school itu sudah diwacanakan beberapa tahun yang lalu. Sistem seperti itu, menurut dia, sudah diterapkan di sekolah-sekolah misi selama ini. Namun, untuk sekolah-sekolah umum implementasinya tergantung pada situasi dan kondisi sekolahnya masing-masing.
“Kalau sekolahnya sudah siap, ya silahkan diterapkan. Tetapi, kalau belum siap jangan dipaksakan. Takutnya nanti akan merugikan anak-anak kita dari segi pembiayaan. Misalnya, biaya makan, minum, dan pengaturan waktunya,” sebut dia.
Pemberlakuan lima hari sekolah itu, masuk jam 07.00 Wita hingga pukul 15.00 Wita (jam 3 petang,red). Jika ini diterapkan, maka perlu dibuat pengaturan waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), sehingga tidak monoton di dalam kelas.
Misalnya, anak-anak mengikuti KBM di dalam kelas dari jam 07.00 -13.00 Wita. Selanjutnya, pukul 13.00 Wita, anak-anak dipulangkan untuk makan di rumahnya masing-masing. Selanjutnya, pukul 14.00 – 15.00 Wita anak kembali ke sekolah tidak dalam bentuk tatap muka di dalam kelas, tetapi dibawa ke suasana alam di luar kelas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












