Pengaruh Belanda saat itu sudah masuk ke wilayah Timor dengan pusatnya di Kupang, walau belum intensif menggarap Timor sebagai daerah jajahannya. Ada raja yang pro Portugis dan ada pula raja yang pro Belanda atau tidak senang dengan kehadiran Portugis.
Raja-raja yang pro Belanda sering mengganggu orang-orang Katolik. Itulah yang terjadi dengan Raja Sombian atau Sonbai. Ia sering mengganggu orang-orang Katolik yang ada di kerajaan sekitar. Maka pada Desember 1641 Padre Frei Antonio de Santo Jasinto mengorganisir suatu ekspedisi melawan Raja Sombian (Sonbai).
Di bawah pimpinan Kaptain Mayor Fransisco Fernandes, Raja-raja Sonbai kemudian dikalahkan, dan minta untuk dipermandikan di Tanjung Sombiao (dekat Oepoli). Dari Timor Padre Frei Antonio de Santo Jasinto pulang ke Larantuka dan selanjutnya jalan terus ke Goa, guna melaporkan keadaan di Pulau Solor dan Timor.
Laporannya menyebabkan kedatangan 20 misionaris Dominikan baru untuk Timor, yakni dua Vikaris Dominikan, masing-masing untuk Flores dan Timor dan satu Visitator untuk Flores dan Timor. Dan Vikaris untuk Timor adalah Frei Antonio sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












