PT TBIG kata Fahmi, selama ini membina generasi muda dari umur 17 sampai 25 tahun Pekalongan, Jawa Tengah dalam melestarikan batik dan juga kuliner. Bagi TBIG, batik merupakan kekayaan Intelektual juga tradisi yang harus dilestarikan secara turun temurun, jangan sampai lekang oleh waktu.
“Batik ini lebih ke identitas bangsa, kita sadar juga nggak bisa melestarikan batik dengan hanya pameran, kami melihat, tongkat estafet antara pembatik akan terputus. Sehingga kita bagaimana cara membuat generasi muda tetap berminat. Kami sudah jalani dari tahun 2014 di situ kita membuat pelatihan” paparnya.
Dijelaskanya, batik menjadi salah satu peluang mendongkrak ekonomi masyarakat kecil sebab yang bergelut di sektor UMKM, sebab batik tidak memerlukan biaya dan teknologi. Akan tetapi di satu sisi geliat produksi batik memiliki tantangan tersendiri yakni menurunnya minat generasi muda.
Selain membina generasi muda menekuni profesi sebagai pembatik, CSR TBIG juga membidani koperasi yang dalam pelaksanaannya memberikan asupan modal bagi peserta binaan ketika ingin mengembangkan usaha mereka. Koperasi bersama dinilai masih relevan karena manfaat yang penting adalah manfaat ekonomi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










