Regenerasi Tenun Ikat di Nagekeo dan Model Intervensi Program CSR PT TBIG

Avatar photo
IMG 20250427 WA0044
Cleofania Woga Nenu penenun milenial di Nagekeo

“Senang, bisa bantu-bantu Mama, biasanya kalau teman-teman ajak bermain saya bilang saya tenun dulu baru ikut bermain” ungkap remaja yang bercita-cita ingin jadi desainer ini.

Bagi masyarakat Kampung adat Gero menenun merupakan mata pencaharian kaum perempuan sebab, kain tenun bukan hanya simbol budaya akan tetapi lebih dari itu bagian dari nilai ekonomi yang mampu mendongkrak pendapatan keluarga. Tak heran jika remaja perempuan Gero diajarkan menenun dari umur yang masih sangat muda diajarkan oleh Nenek dan ibu mereka secara turun-temurun. “Kalau kain kain sarung biasanya paling lama saya tenun 3 Minggu, kalau selendang 1 Minggu bisa selesai” katanya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Keempat puteri Agustina mulai dari yang tertua semuanya bisa menenun. Bahkan oleh sang ayah, mereka masing-masing disiapkan alat tenun kayu yang dikerjakan sendiri. “Saya punya anak perempuan mereka semua bisa tenun, Omanya yang ajar, ya bantu-bantu kami, habis kami di sini ongkos anak sekolah kuat dengan tenun saja” tutur Agustina lirih.

Kampung Adat Gero yang berada di pinggir jalan trans Aemali-Danga dengan landscape Gunung Ebulobo yang menjulang tinggi kurang lebih 5 kilometer di hadapannya ini diklaim sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Selain kekayaan intelektual berupa tenun ikat, jejak peninggalan sejarah kampung Gero bisa dilihat pada peninggalan-peninggalan warisan budaya berupa rumah adat berikut simbol sejarahnya.