Regenerasi Tenun Ikat di Nagekeo dan Model Intervensi Program CSR PT TBIG

Avatar photo
IMG 20250427 WA0044
Cleofania Woga Nenu penenun milenial di Nagekeo

Ia kemudian menuangkan semua bahan itu untuk direbus dengan nyala api sedang. Setelah mendidih, air yang sudah berwarna kuning itu kemudian dicelupkan sejumlah untaian benang putih. Benang putih yang sudah diikat itu merupakan bentuk motif yang sudah didesain menghasilkan motif-motif tertentu sesuai kebutuhan.

“Ini proses celup benang alami, semua bahan bahannya alami. Ada juga yang pakai zat kimia itu lain lagi prosesnya. Nanti setelah direndam baru jemur, rendam sampai dua tiga kali, biasanya dua malam supaya warnanya jelas. Tergantung maunya kita kalau mau supaya kuning betul harus rendam lebih lama” jelas Cleofania sembari mengusap keringat di keningnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Fania begitu sapaan nya, tinggal bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya di Kampung Bokela, Kelurahan Bokela, Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo. Aktivitas gadis 24 tahun ini setiap harinya sibuk menenun. Hari itu, Ia dibantu oleh Ibu dan adik perempuannya meracik pewarna benang alami sebelum lanjut menenun.

“Ini untuk yang warna kuning, ada juga warna lain campurannya pakai akar mengkudu hutan, cincang dulu baru ditumbuk peras airnya dicampur daun Simplokos, rendam benang putih, biasanya rendam satu sampai dua hari kemudian dijemur” urainya.