Regenerasi Tenun Ikat di Nagekeo dan Model Intervensi Program CSR PT TBIG

Avatar photo
IMG 20250427 WA0044
Cleofania Woga Nenu penenun milenial di Nagekeo

“Biasa kalau saya posting di IG atau Facebook banyak yang langsung tanya. Ya…, hitung-hitungan lumayan buat bantu-bantu Bapa Mama, bayar uang sekolah adik-adik” pungkasnya.

Tentang Tenun Ikat Nagekeo

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo kain adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat secara turun temurun sejak jaman Nenek moyang. Kain tenun selain merupakan identitas maupun entitas masyarakat adat. Fungsi kain pada upacara memberi nilai yang sangat istimewa. Selembar kain bernilai barter dengan seekor kerbau atau kuda.

Fungsi lain dari kain tenun tradisional Nagekeo dalam urusan adat meliputi hadiah dalam perkawinan (belis), sebuah penghargaan balasan dari pihak keluarga wanita kepada keluarga pria, juga pemberian atau penghormatan pada upacara kematian.

Theresia Ebu pengurus Dekranasda Kabupaten Nagekeo menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis kain adat di Kabupaten Nagekeo yang menjadi identitas masyarakat yakni Dhowik, Telapoi dan Hoba Nage. Dari ketiga jenis kain tenun ini dua diantaranya yakni Hoba Nage dan Telopoi proses pembentukan motifnya diikat kemudian dicelupkan pewarna baik kimia maupun alami sebelum ditenun. Kemudian Dhowik atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ragi, motifnya dibentuk saat menenun.