Usai menyelesaikan proses mewarnai benang, Fania kemudian beranjak ke ruang tamu meneruskan aktivitas menenun. Berbeda dengan penenun lainya, Dia mengaku hanya bisa menenun jenis ikat tenun. Motif dibentuk sedemikian rupa pada benang sesuai kebutuhan dengan cara diikat sebelum dirajut menjadi gugusan benang di atas alat tenun. “Kalau kami di sini ikat tenun istilahnya, karena ikat dulu motifnya baru tenun, berbeda dengan tenun ikat yang motifnya langsung diikat dan dibentuk saat menenun” jelas Fania.
Ruang tamu dipenuhi dengan peralatan tenun mulai dari alat tenun yang sudah terpasang untaian benang alat untuk membentuk motif tentang benang benang berbentuk tempat tidur. Beberapa helai kain sarung juga selendang yang sudah jadi dan siap dipasarkan tampak digantung berjejer di dinding. “Kalau tinggal tenun cepat saja, paling lama 1 minggu, yang lama itu kita racik bikin warna dan bentuk motif” paparnya.
Berbeda dengan remaja puteri di Kampung Gero yang bisa menenun sejak usia dini, Fania mengaku justeru bisa menenun setelah tamat SMA. Ia sudah jatuh cinta dengan menenun bermula saat menyaksikan saudara ibunya yang mahir menenun dan kemudian terus belajar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










