Regenerasi Tenun Ikat di Nagekeo dan Model Intervensi Program CSR PT TBIG

Avatar photo
IMG 20250427 WA0044
Cleofania Woga Nenu penenun milenial di Nagekeo

Usai menyelesaikan proses mewarnai benang, Fania kemudian beranjak ke ruang tamu meneruskan aktivitas menenun. Berbeda dengan penenun lainya, Dia mengaku hanya bisa menenun jenis ikat tenun. Motif dibentuk sedemikian rupa pada benang sesuai kebutuhan dengan cara diikat sebelum dirajut menjadi gugusan benang di atas alat tenun. “Kalau kami di sini ikat tenun istilahnya, karena ikat dulu motifnya baru tenun, berbeda dengan tenun ikat yang motifnya langsung diikat dan dibentuk saat menenun” jelas Fania.

Ruang tamu dipenuhi dengan peralatan tenun mulai dari alat tenun yang sudah terpasang untaian benang alat untuk membentuk motif tentang benang benang berbentuk tempat tidur. Beberapa helai kain sarung juga selendang yang sudah jadi dan siap dipasarkan tampak digantung berjejer di dinding. “Kalau tinggal tenun cepat saja, paling lama 1 minggu, yang lama itu kita racik bikin warna dan bentuk motif” paparnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Berbeda dengan remaja puteri di Kampung Gero yang bisa menenun sejak usia dini, Fania mengaku justeru bisa menenun setelah tamat SMA. Ia sudah jatuh cinta dengan menenun bermula saat menyaksikan saudara ibunya yang mahir menenun dan kemudian terus belajar.