Beranda Hukum & Kriminal Kejam, Guru SMK di Betun Hukum Siswa Hingga Luka Robek di Lutut

Kejam, Guru SMK di Betun Hukum Siswa Hingga Luka Robek di Lutut

1864
0

MALAKA, Flobamora-news.com Dunia pendidikan kembali tercoreng akibat Guru SMK St. Wilibridus Dismas Engelbertus menghukum beberapa siswa-siswi himgga mengalami luka robek di lutut. Hukuman ini diberikan karena matapelajaran simulasi digital, nilai ujiannya tidak mencapai standart yang telah ditetapkan.

Hal ini dikatakan Frida Nurjanah salah satu korban, saat ditemui di depan sekolah SMK St. Wilibrodus Betun, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Kapada awak media, Kamis, (12/12/2019).

Menurut Frida, saat ujian nilai kami tidak mencapai nilai standar yang ditentukan yaitu 7,5. Kami dihukum berlutut sambil betjalan keliling ruangan sebanyak lima kali. Hukuman ini bukan hanya saya yang mengalami luka robek pada lutut, tetapi beberapa teman saya juga alami luka yang sama. Akibat adanya luka robek pada lutut, mereka merasa sakit karena digesek rok saat berjalan.

“Kalau saya berjalan dan digesek oleh rok, rasanya perih dan saat duduk lipat kaki agak setengah mati”, ujarnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SMK St.Wilibrodus Betun. Wihelmus Seran ketika dikonfirmasi menyatakan, yang dilakukan guru tersebut, karena menindaklanjuti aturan yang telah disepakati bersama orang tua/wali siswa saat awal tahun.

“Jadi ini aturan yang telah disepakati bersama antara guru, siswa, dan juga orang tua, saat rapat diawal tahun”, jelas Seran.

“Pendidikan itu biasanya yang begini pembinaannya. Mungkin berlutut terlalu lama, dan itu anak juga tidak terbuka, seharusnya dia beritahu, bahwa lututnya sedang sakit dan tidak bisa berlutut, sehingga guru bisa berikan sanksi lain. Biasanya sanksi kepada siswa disekolah yang ia pimpinan ini, kebanyakan sanksi menyiram bunga di sekeliling sekolah, atau bersihkan toilet”, kata Seran.

“Kebanyakan kita beri sanksi siram bunga di halaman sekolah atau berikan WC dan sanksi yang ringan”, ujarnya

Dia mengaku, ini pelajaran sehingga kedepan harus beri sanksi yang tidak boleh berat bagi siswa. Ini pengalaman bagi kami, untuk kedepan kami lebih ringan lagi membina anak”, tutupnya.

 


Reporter: Herry Metak


Komentar