“Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainan-Mu! Anggap saja saya ini mainan-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bola-Mu. . .Oh Yesus, tentu itu sakit sekali. Namun, terjadilah kehendak-Mu! “
Inilah doa Theresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, tetapi belum bisa disambutnya karena umurnya baru 7 tahun.
Orang tua Theresia baik sekali terhadapnya bersama saudara-saudaranya yang lain. Mereka semua – ada lima bersaudara – menjadi suster.
Betapa bahagia hati Theresia, ketika pada umur 12 tahun, dirinya boleh menyambut Tubuh Yesus untuk pertama kalinya. Di hadapan sebuah salib, ia berjanji:
“Yesus di Kayu Salib yang haus, saya akan memberikan air kepada-Mu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat .“
Pendosa pertama yang bertobat berkat doa Theresia ialah seorang penjahat kakap yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesal. Namun akhirnya ia bertobat juga di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukuman matinya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










