Beranda Hukum & Kriminal Jemi Haekase Sesalkan Lamanya Penyidikan Polres Belu Terkait Kasus Dugaan Penyelundupan Narkoba

Jemi Haekase Sesalkan Lamanya Penyidikan Polres Belu Terkait Kasus Dugaan Penyelundupan Narkoba

575
0

BELU, Flobamora-news.com – Kuasa hukum dari tersangka kasus dugaan penyelundupan Narkotika, Jemi Haekase sesalkan lamanya penyidikan yang dilakukan Kepolisian Resort Belu kepada dua kliennya yang berwarga Negara Timor Leste. Pasalnya terhitung sejak awal penahanan, hingga hari ini (21/09/2019) kedua kliennya sudah ditahan kurang lebih 110 hari di tahanan Polres Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL.

“Saya sangat sayangkan berlarut-larutnya penyidikan ini. Karena di satu sisi klien saya secara psikologis juga terganggu. Mereka sedang menunggu kepastian hukum itu,” kesalnya saat ditemui awak media ini, Rabu pagi (18/09/2019).

Bahkan Jemi Haekase berani mengatakan bahwa sepanjang karirnya dalam mendampingi klien yang bermasalah di Atambua, khususnya oleh Polres Belu, baru ditemui kelamaan waktu penyidikan seperti ini.

Dirinya menegaskan bahwa penahanan terhadap tersangka dalam setiap kasus selalu didasarkan pada Kitab Undang- undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang mengatur secara jelas tentang tahapan dan batas waktu penahanan dalam proses penyidikan.

Diungkapkan batasan waktu penahanan yang ditetapkan Undang-undang adalah 120 hari. Sementara kedua tersangka WNA dari Timor Leste tersebut sudah menjalani 110 hari masa tahanan di Polres Belu.

Karena itu, Kuasa Hukum Jemi menegaskan apabila dalam 10 hari kedepan penyidik tidak melakukan P21 maka konsekuensi yuridis-nya adalah kedua orang tersangka tersebut harus dilepas demi hukum.

“Setelah 10 hari ke depan maka proses hukum boleh saja tetap berjalan tetapi kedua tersangka tidak boleh ditahan karena batasannya menurut undang-undang hanya 120 hari,” imbuh Kuasa hukum Jemi.

Jemi Haekase juga menyampaikan bahwa sepanjang menangani perkara ini, dirinya sudah 5 kali mendampingi kedua tersangka dalam pemeriksaan tambahan.

“Harapan saya selama 10 hari ini bisa secepatnya dipenuhi kelengkapan penyidikan sehingga kepastian hukum tentang kasus ini bisa jelas,” harap Jemi.

Untuk diketahui, dua orang tersangka seorang laki-laki berinisial JSP (34) dan seorang perempuan berinisial AS (30) membawa 4.874 narkoba jenis ekstasi yang berhasil digagalkan petugas Bea Cukai Atambua, Polres Belu dan BNK Kabupaten Belu.

Kedua tersangka adalah suami istri Warga Negara Asing (WNA) asal Timor Leste yang mencoba untuk menyelundupkan ribuan butir ekstasi seberat 1,861 Kg ke Indonesia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota’ain yang dikemas dalam plastik masing-masing lima plastik ukuran kecil kemudian dimasukan dalam plastic hitam besar dan diisolasi lalu di masukan ke dalam mesin printer.

Lima kemasan itu yakni kemasaan satu berisi 972 pil warna hijau, kemasan kedua berisi 988 pil warna biru, kemasan ketiga berisi 969 pil warna hijau, kemasan keempat berisi 977 pil warna hijau, dan kemasan kelima berisi 968 pil warna cokelat.

Barang Bukti Kasus Penyelundupan Narkoba Jenis Ekstasi melalui PLBN Motaain Perbatasan RI-RDTL

Berikut ini, release dari Beacukai Atambua pada halaman facebooknya :

Penyelundupan 4.874 Butir Ekstasi Seberat 1,861 Kg Berhasil Digagalkan oleh Petugas Bea Cukai Atambua

Atambua – Libur dan cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 2019 bukan menjadi penghalang bagi petugas Bea Cukai Atambua untuk tetap siaga menjaga wilayah perbatasan. Hal ini terbukti dengan tertangkapnya 2 (dua) orang warga negara asing asal Timor Leste yang mencoba untuk menyelundupkan ribuan butir ekstasi seberat 1,861 Kg ke Indonesia melalui PLBN Motaain berhasil digagalkan oleh Petugas Bea Cukai Atambua pada Rabu (29/05/2019).

Untuk mengelabui petugas, tersangka seorang pria inisial JSP dan seorang perempuan inisial AS membawa barang haram berupa ekstasi tersebut dengan cara dibungkus menggunakan kemasan plastik warna hitam dan dimasukkan ke dalam sebuah printer. Seperti penumpang lainnya, JSP dan AS menunjukkan sikap yang wajar saat dilakukan pemeriksaan terhadap barang yang dibawanya. Namun kecurigaan petugas mulai muncul setelah melihat hasil citra x-ray atas printer yang dibawa tersangka terlihat tidak wajar. Karena itu petugas akhirnya melakukan X-ray ulang dan memeriksa lebih mendalam terhadap printer tersebut. Saat printer diperiksa petugas menemukan adanya 5 buah kemasan plastik warna hitam yang disembunyikan di dalam printer tersebut. Hal ini semakin menambah kecurigaan petugas yang kemudian membuka salah satu kemasan plastik dan ditemukan di dalamnya benda berbentuk PIL warna hijau. Untuk memastikan jenis barang tersebut, pada tahap awal dilakukan uji dengan menggunakan NIS (Narcotics Identification System). Hasilnya positif barang tersebut adalah narkoba jenis MDMA (Metilendioksimetamfetamina) atau ekstasi.

Kemudian kedua tersangka dan barang bukti dibawa ke kantor Bea Cukai Atambua untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk keperluan pembuktian proses penyidikan Bea Cukai Atambua juga melakukan identifikasi barang melalui uji laboratorium pada Balai laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Surabaya. Berdasarkan hasil uji laboratorium tersebut dipastikan jenis barang sama dengan hasil pemeriksaan awal yaitu MDMA atau ekstasi. Setelah proses pemeriksaan tersangka dan barang bukti lengkap Bea Cukai Atambua menyerahkan perkara tersebut ke Polres Belu guna penyidikan lebih lanjut.

Kasus ini merupakan penindakan narkoba pertama kali yang dilakukan oleh Bea Cukai Atambua di tahun 2019. Dalam kasus ini barang bukti yang berhasil diamankan oleh petugas adalah sebanyak 4.874 (empat ribu delapan ratus tujuh puluh empat) butir dengan berat 1,861 (satu koma delapan ratus enam puluh satu) Kg bruto narkotika jenis MDMA / ekstasi. Nilai barang ditaksir kurang lebih Rp4.874.000.000,00 (empat miliar delapan ratus tujuh puluh empat juta rupiah).

Atas perbuatan tersebut tersangka dapat dijerat dengan Pasal 102 huruf e jounto Pasal 103 huruf c Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan jounto Pasal 113 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan tuntutan hukuman pidana mati.

Keberhasilan penggagalan upaya penyelundupan narkoba ini merupakan wujud komitmen Bea Cukai Atambua sebagai community protector untuk selalu menjaga wilayah perbatasan NKRI dari masuknya barang-barang berbahaya bagi masyarakat demi mewujudkan Bea Cukai makin baik.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar