Beranda Olahraga Menanti Tragedi Air Mata Bola Bintang Timur Atambua

Menanti Tragedi Air Mata Bola Bintang Timur Atambua

1684
0

BELU, Flobamora-news.com –Bicara Bintang Timur Atambua dalam perhelatan babak penyisihan Grup D memperebutkan tiket Perdelapan Final Piala El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 di Kabupaten Malaka, saya kembali teringat akan sebuah buku yang dibuat Kompas dari kumpulan tulisan Sindhunata.

Ragam cerita tentang sepakbola itulah yang ditulis Sindhunata dalam bukunya Air Mata Bola. Buku ini adalah bagian kedua dari trilogi catatan sepakbola Sindhunata yang merupakan kumpulan tulisannya di harian Kompas pada periode 1992 hingga 2000.

Seperti yang selalu dikatakan orang, sepakbola bukan sekadar permainan. Selalu ada drama di sana, selalu ada tautan menuju aspek yang lain dalam kehidupan manusia. Sepakbola bukan hanya sekadar sebuah olahraga yang mempertemukan 22 anak manusia di atas lapangan hijau.

Tidak ada perhelatan yang begitu mampu menyedot perhatian warga dunia melebihi perhelatan piala dunia sepakbola. Ketika sebuah piala dunia akhirnya digelar, maka seluruh pelosok bumi seakan dilanda demam sepakbola. Tua, muda, lelaki, wanita, hampir semuanya memusatkan pikiran pada sebuah olahraga yang konon disebut sebagai olahraga paling populer.

Sepakbola juga adalah lambang nasionalisme, olahraga di mana karakter dan nama baik sebuah bangsa dibawa ke atas lapangan hijau. Di lapangan hijaulah berkumpul 22 orang yang bagai gladiator saling berebut dan mempertahankan harga diri dan martabat pribadi dan bangsanya.

Sepakbola juga industri, sebuah lapangan luas yang menyedot begitu banyak manusia ke dalamnya yang kemudian diolah menjadi gelimangan dollar atau euro. Para lelaki kekar itu diperas tenaganya, diperjualbelikan secara halus dengan menjaga pundi-pundi uang tetap gendut.

Begitulah, sepakbola tidak selamanya berbicara tentang olahraga dan idealisme, tapi juga menjadi sebuah bentuk penjajahan baru, bentuk baru sebuah industri dan bentuk baru sebuah penindasan.

Sindhunata adalah seorang jurnalis yang juga mendalami filsafat, sangat pandai merangkai kalimat dalam menuturkan ragam cerita di balik kejadian-kejadian besar di dunia sepakbola. Dari catatannya, kita bisa mengurai satu per satu hubungan antara sepakbola dengan sosial, ekonomi, psikologi, filsafat atau apapun itu.

Dasar-dasar pemikiran Sindhunata selalu berpijak pada kejadian sepakbola yang kemudian dibawanya melebar kepada banyak perenungan tentang makna hidup dan kehidupan. Buku ini bukan buku yang seluruhnya bercerita tentang sepakbola, tapi buku yang membuat kita berpikir tentang bagaimana sepakbola itu begitu merasuk dalam kehidupan manusia sehinggal menimbulkan sebuah perenungan tentang kehidupan itu sendiri.

Membaca buku ini kita akan semakin yakin pada sebuah frasa bahwa : sepakbola bukan hanya sekadar permainan.

Dalam buku ini, Sindhunata mengurai tentang berbagai tragedi dan drama. Tangis para pemain dan penonton pun digambarkan secara detail.

Perjuangan Bintang Timur Atambua dalam panggung ETMC 2019 di Kabupaten Malaka seakan berada di ujung tanduk. Mereka harus melaksanakan sebuah “Mission Impossible” pada laga terakhirnya saat bertemu Persarai.

Bintang Timur Atambua sendiri merupakan pendatang baru pada ajang Piala ETMC 2019. Akan tetapi prestasinya di kancah nasional dan internasional serta penampilannya pada ajang Piala ETMC 2019 menjadikan mereka sebagai salah satu tim favorit juara.

Mulai dari taktik dan strategi bermainnya, hingga kualitas para pemainnya tak diragukan lagi oleh publik. Permainan atraktif ala Barcelona membuat para penonton terkesima dibuatnya.

Sayangnya, dari tiga laga penyisihan Grup D, anak-anak Macan Perbatasan baru mengumpulkan empat poin. Sedangkan, Persamba dan Persada sama-sama telah mengumpulkan tujuh poin pada tiga laga penyisihannya.

Kemenangan besar harus menjadi target pada laga terakhir agar Bintang Timur bisa mendapat tiket Perdelapan Final Piala ETMC 2019 ini untuk bisa mencapai tujuh poin.

Hanya saja, kemenangan itu tak cukup. Bintang Timur masih harus bergantung pada pertandingan lain.

Persamba saat ini menempati posisi juara Grup D dengan selisih lima gol. Sedangkan Persada memiliki poin tujuh dengan selisih gol yang sama dengan Bintang Timur yaitu dua gol.

Pada laga terakhir, Persamba akan dipertemukan dengan Persada. Bila Persamba kalah, maka Bintang Timur harus menang dengan jumlah gol yang banyak. Bila Persada kalah, maka Bintang Timur punya peluang besar untuk mendapat tiket Perdelapan Final Piala ETMC 2019.

Hanya saja, ada kemungkinan untuk Persamba dan Persada bermain imbang. Bila keduanya bermain imbang, maka mereka akan sama-sama mendapat poin delapan. Persamba pun tetap keluar sebagai juara Grup D.

Itu artinya, kemenangan 10-0 pun tak mampu membawa Bintang Timur menembus babak selanjutnya.

Bintang Timur sebenarnya bukan baru melakukan Mission Impossible. Ketika Farry J. Francis membangun sebuah sekolah bola di Perbatasan RI-RDTL, banyak orang mencemoohnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa itu sebuah usaha yang sia-sia.

Bagaimana tidak? Belum pernah ada satu pemain pun dari Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL yang bermain di liga 1 Indonesia, apalagi menembus skuad Timnas Indonesia. Masyarakat perbatasan hanya memiliki bakat alam dengan gaya bermain kampungan.

Farry Francis melihat itu. Baginya, bakat-bakat alam ini perlu mendapat polesan untuk berkualitas baik. Batu akik yang diambil dari dalam lumpur, bila dipoles menjadi sebuah cincin, maka akan menjadi mahal harganya. Namun, bila batu akik itu dibiarkan tetap dalam lumpur, maka tidak akan ada harganya.

Karena itu, tak heran bila anak-anak Bintang Timur Atambua selalu mengumandangkan, “Membangun Harapan di Tanah Perbatasan”.

Jalan itu masih terbuka. Peluang itu masih ada. Selalu ada harapan di Tanah Perbatasan RI-RDTL. “Carpe diem, quam minimum credula postero” yang berarti: “Petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok.”


Reporter: Ricky Anyan


Komentar