Beranda Internasional Pena Batas Sayangkan Sikap Kasat Ivans, Intan TTU Malah Tantang Sang Kasat

Pena Batas Sayangkan Sikap Kasat Ivans, Intan TTU Malah Tantang Sang Kasat

858
0

BELU, Flobamora-news.com – Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL menyayangkan aksi Kasat Resnarkoba Polres Belu, Iptu Ivans Drajat karena mengusir wartawan online gerbang-ntt.com Mariano Parada yang meliput kunjungan pejabat asal Timor Leste ke Mapolres Belu, Kamis (20/6/2019).

Menurut Pena Batas RI-RDTL, tindakan yang dilakukan Kasat Ivans ini adalah tindakan premanisme dan tak patut dilakukan polisi yang adalah notabene pelindung dan pengayom masyarakat.

Tak hanya itu, Pena Batas RI-RDTL juga siap meladeni ancaman dari Iptu Ivans yang mempidanakan wartawan yang meliput peristiwa penangkapan kurir Narkoba di PLBN Motaain, 29 Mei 2019 lalu.

“Kita dari Pena Batas siap dampingi wartawan gerbang-ntt.com yang adalah anggota Pena Batas, sekaligus siap ladeni jika Kasat Resnarkoba ini bilang akan ada laporan polisi terhadap kita yang meliput peristiwa penangkapan itu,” kata Sekretaris Pena Batas RI-RDTL, Yansen Bau.

Menurut Yansen, kasus kekerasan jurnalis terhadap wartawan gerbang-ntt.com itu telah disikapi komunitas itu untuk menentukan langkah-langkah hukum yang akan diambil.

“Pena Batas tidak tinggal diam. Kita siap ladeni karena yang beritakan kasus penangkapan itu bukan hanya media yang wartawannya bertugas di Kabupaten Belu, tapi termasuk media-media nasional seperti Kompas.com, mediaindonesia dan lainnya,” tegasnya.

Pena Batas, lanjut Yansen, telah membuat pernyataan pers yang intinya akan melaporkan oknum pejabat Polres Belu tersebut ke Paminal, Kapolda NTT, Kapolri, dan Kompolnas.

Kasat Resnarkoba Polres Belu, Iptu Ivans Drajat

Dalam pernyataan resmi Pena Batas RI-RDTL, kata Yansen, para wartawan mengutuk perilaku oknum pejabat polisi yang mengintimidasi Wartawan Media Online, Mariano Parada di sebuah warung di Kota Atambua, Kamis (20/6/2019).

“Kami menilai, perilaku itu tidak pantas dilakukan seorang pejabat kepolisian karena arogan dan telah mempertontonkan aksi premanisme,” demikian Yansen mengutip pernyataan resmi Pena Batas.

“Karena itu, kami meminta Kaporles Belu AKBP Christian Tobing untuk menindak oknum pejabat yang berperilaku preman. Bagi kami, Belu adalah Tanah Sahabat di Perbatasan RI-RDTL. Karena itu, tidak bisa kami toleransi oknum aparat penegak hukum yang sejatinya menjadi pengayom masyarakat justru menjadi monster bagi rakyat,” pungkasnya.

Bila Pena Batas menyayangkan sikap Kasat Ivans, Ikatan Wartawan Timor Tengah Utara yang tergabung dalam INTAN TTU malah balik menantang Kasat Resnarkoba untuk secepatnya melaporkan para wartawan yang menulis berita itu.

Menurut Ketua Intan TTU, Lius Sikone, tindakan Kasat Ivans ini telah menghalangi tugas jurnalis ini sudah melanggar UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. “Ini sudah jelas-jelas melanggar pasal dalam UU Pers dan saat ini dia bisa diproses. Kalau dia bertanya tentang wartawan kebal hukum atau tidak ? Sampaikan ke dia untuk baca kembali MoU antara dewan pers dengan Polri,” tegas wartawan KompasTV ini.

Lebih lanjut Lius meminta Kasat Ivans untuk belajar lagi tentang undang-undang sebelum mengancam akan memidanakan wartawan. Apalagi, kata Lius, Kasat Ivans adalah seorang pejabat di jajaran Polres sehingga sangat disayangkan jika melakukan tindakan kekerasan terhadap jurnalis.

Sebelumnya diberitakan oleh media ini Kasat Resnarkoba Polres Belu Ivans Drajat, S.I.K Akan Polisikan beberapa media yang menulis tentang Penangkapan Pasangan Suami istri asal Timor Leste di PLBN Motaain saat membawa 4.874 butir pil ekstasi beberapa waktu silam (29/5/2019). Hal ini dikarenakan, menurutnya, telah mengganggu kerja dari pihak kepolisian.

Ditegaskan bahwa setelah semua proses kasus penangkapan pasang suami istri kurir Narkoba itu selesai, maka dirinya akan langsung melaporkan beberapa media.

“Kemarin itu saya minta jangan diliput, malah diliput. Saya tunggu proses ini selesai nanti laporan polisi datang… itu kalau saya. Intinya, saya tidak mau pekerjaan saya terganggu,” tegasnya kepada awak media usai kunjungan Konsulat Timor Leste kepada kurir Narkoba yang ditahan di Polres Belu (20/6/2019).

Dirinya mengingatkan bahwa tidak ada wartawan yang kebal hukum. Karena itu, harus berbuat sesuai dengan aturan pers yang sudah diatur oleh Dewan Pers.

“Ingat, ada wartawan kebal hukum? Nggak ada to?” Demikian tegasnya.

Sebenarnya Pihak Resnarkoba Polres Belu sudah memiliki beberapa target pelaku. Akan tetapi, karena pemberitaan dari beberapa media itu membuat para pelaku akhirnya berhasil kabur.

“Kemarin peliputan pertama, namanya lengkap sekali, makanya saya jengkel… tenang aja, sebentar saya laporin biar tau to… Makanya perlu hati-hati… bukannya kita nggak mau… tapi sebenarnya jaringannya besar, akibatnya banyak tersangka yang kabur, kecewa nggak? Saya sampai kejar ke Surabaya… Jakarta… lolos juga,” kesalnya.

Untuk diketahui, ada sebuah MoU antara Dewan Pers dan Polri yang dibuat pada Kamis, 9 Februari 2017 di Ambon, Maluku yang ditandatangani oleh Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo selaku pihak pertama dan Kapolri Jenderal Polisi Drs. M. Tito Karnavian, M.A., Ph. D.

Pada Bab III bagian kedua tentang Koordinasi di bidang perlindungan kemerdekaan pers, Pasal 4, ayat (1) PARA PIHAK berkoordinasi terkait perlindungan kemerdekaan pers dalam pelaksanaan tugas di bidang pers sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Ayat (2) PIHAK KEDUA, apabila menerima pengaduan dugaan perselisihan/sengketa termasuk surat pembaca atau opini/kolom antara wartawan/media dengan masyarakat, akan mengarahkan yang berselisih/bersengketa dan/atau pengasuh untuk melakukan langkah-langkah secara bertahap dan berjenjang mulai dari menggunakan hak jawab, hak koreksi, pengaduan ke PIHAK KESATU maupun proses perdata.

Ayat (3) Sebagaimana dimaksud pada ayat (2), apabila solusi penyelesaian langkah-langkah dari PIHAK KESATU tersebut tidak dapat diterima pihak pengadu dan ingin menempuh proses hukum lainnya, maka pihak pengadu diminta mengisi formulir pernyataan di atas kertas bermaterai. (Richi Anyan)

Komentar