Beranda Internasional Sebelum Dili, Timor Leste Punya Ibu Kota yang Lain

Sebelum Dili, Timor Leste Punya Ibu Kota yang Lain

4318
0

“Timor Portugis pada masa itu dipandang pemerintah Portugal hanya sebagai pos perdagangan yang tidak terlalu penting. Investasi di bidang infrastruktur, kesehatan dan pendidikan sangat minim”

OECUSSE, Flobamora-news.com – Banyak dari kita tahu bahwa Ibu Kota Negara Republic Demokratik Timor Leste adalah Dili. Namun, masih banyak yang belum tahu bahwa sebelum Dili, ada sebuah daerah kecil yang pernah menjadi Ibu Kota Timor Leste, jauh sebelum Timor Leste merdeka.

Timor Leste merupakan sebuah negara yang kecil, tapi menyisahkan sejarah yang begitu panjang. Negara bagian Timur Pulau Timor itu kecil dengan wilayahnya hanya 15.410 Km2.

Para pedagang Portugis tiba di Timor untuk pertama kali sekitar tahun 1509 sampai 1511. Sebagaimana pedagang-pedagang Eropa di Nusantara pada umumnya, mereka datang demi rempah-rempah, cendana, dan hasil alam tropis lainnya. Kemudian, sejumlah biarawan Dominikan mendirikan pemukiman Portugis di Lifau, Oekusi, dan mulai berdakwah di pulau tersebut.

Portugal memperkenalkan agama Katolik, sistem abjad Latin, percetakan, dan sekolah formal kepada rakyat Timor Leste. Bahasa Portugis digunakan dalam peribadatan, bisnis, dan birokrasi, berdampingan dengan bahasa Melayu dan Tetum buat urusan sehari-hari.

Pada Tahun 1642, Francisco Fernandes dan pasukan Topasses (indo Portugis-Flores) memulai ekspedisi militer. Satu demi satu, raja-raja pulau Timor mereka tundukkan.

Akhirnya, pada Tahun 1702, terciptalah sebuah koloni baru yang secara resmi mereka nama TIMOR PORTUGIS yang beribu kota di LIFAU, Oecusse.

Tetapi, Portugal bukan satu-satunya penjajah di Pulau Timor. Selain Portugal, ada Belanda yang juga mendirikan pangkalannya di Kupang, Pulau Timor bagian Barat.

Kaum Topasses jadi semakin sukar dikendalikan. Tahun 1769, ibukota Timor Portugis dipindahkan ke Dili karena ancaman orang-orang Topasses. Sementara di Timor bagian barat, Belanda terus memperluas kekuasaannya.

Akhirnya, lewat Perjanjian Lisbon tahun 1859, ada kesepakatan pembagian wilayah Pulau Timor antara Timor Portugis dan Hindia Belanda. Portugis di timur dan Hindia Belanda di bagian Barat.

Ratusan tahun dijajah Portugal, akhirnya pada tahun 1910 sampai 1912 orang Timor Portugis melakukan pemberontakan yang cukup besar buat mengguncang keadaan. Perlawanan itu dikenal sebagai Pemberontakan Timor Timur atau Pemberontakan Manufahi.

Geoffrey C. Gunn dalam Historical Dictionary of East Timor mencatat salah satu peristiwa paling brutal dalam pemberontakan itu: pada Februari 1912, pemberontak dari satu bekas kerajaan Timor memasuki ibukota Dili. Mereka menjarah dan membakar pemukiman orang-orang Portugis serta menggorok para tentara. Balasannya, Portugal mengirimkan tentara dari Mozambik dan sebuah kapal perang dari Macau.

Menurut Constancio Pinto dan Matthew Jardine dalam East Timor’s Unfinished Struggle: Inside the East Timor Resistance, 3.424 orang Timor terbunuh dan 12.567 orang luka-luka dalam kemelut tersebut. Sementara di pihak Portugis ada 289 orang korban tewas dan 600 korban cedera.

Selama Perang Dunia Kedua, Timor Portugis “dijaga” oleh pasukan Australia dan Belanda. Jepang, lawan mereka, tiba di kawasan itu pada Februari 1942. Situasi itu kembali menyeret rakyat Timor Portugis ke dalam perang. Pada 19 Februari 1942, sebuah pertempuran meletus. Rakyat Timor membantu kubu Sekutu menghadang Jepang.

Akibatnya, sekalipun Sekutu telah mundur dari Timor Portugis, penduduk setempat harus terus berperang melawan Jepang. Sebagian besar kematian warga sipil disebabkan oleh pembalasan Jepang yang berlangsung sampai tahun 1945. Menurut situs pertahanan Australia, ada 40.000 sampai 70.000 orang Timor Portugis terbunuh dalam perang tersebut.

Setelah Perang Dunia, Timor Portugis kembali dikuasai Portugal. Namun, menurut Adam Schwarz dalam A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s, Timor Portugis pada masa itu dipandang pemerintah Portugal hanya sebagai pos perdagangan yang tidak terlalu penting. Investasi di bidang infrastruktur, kesehatan dan pendidikan sangat minim. Peran utama koloni itu hanya sebagai tempat pengasingan orang-orang yang dianggap “bermasalah” oleh pemerintah di Lisbon, termasuk tahanan politik.

Pada tahun 1955, Timor Portugis dinyatakan sebagai “Provinsi Luar Negeri” Republik Portugal. Sementara itu, kawasan Timor Barat bekas jajahan Belanda telah menjadi bagian dari Republik Indonesia yang berdaulat.

Sinar terang muncul bagi rakyat Timor Portugis pada 1974, ketika Portugal dilanda Revolusi Anyelir yang salah satu tuntutannya ialah Portugal harus melepaskan daerah-daerah koloni yang tercatat sebagai provinsi luar negeri.

Monumen Lifau sebagai tempat pertama kali Misionaris Katholik menginjakkan kakinya di Pulau Timor

Rakyat Timor Portugis mulai berhitung soal kemerdekaan. Mereka mendirikan partai-partai politik, antara lain União Democrática Timorense (UDT)—bentukan sejumlah tuan tanah kaya bekas kolaborator Portugal, Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (FRETILIN)—kelompok yang hendak memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste, dan Associacão Popular Democratica Timorense (APODETI) yang ingin Timor Leste bergabung dengan Indonesia.

Perselisihan politik tidak terhindarkan dan konflik bersenjata segera menyusul. Mario Lemos Pires, gubernur Timor Portugis, kewalahan. Pada 28 November 1975, FRETILIN mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste dari Portugis.

Kemerdekaan ini tak bertahan lama. Dua minggu setelah mencium aroma kemerdekaan, Timor Leste mendapat gempuran Tentara Nasional Indonesia. Tepatnya, pada tanggal 17 Juli 1976, Indonesia secara resmi menyatakan Timor Leste, dengan nama Timor Timur, telah jadi provinsinya yang ke-27.

Para pejuang kemerdekaan Timor Leste pun kembali harus menghadapi penjajah baru. Akhirnya, pada tanggal 20 September 1999 pasukan penjaga perdamaian International Force for East Timor (INTERFET) tiba dan mengakhiri hal ini. Pada 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka dengan nama Timor Leste dengan sokongan luar biasa dari PBB. (Richi Anyan)

Komentar